Featured Post

Friday, 12 April 2013

Batak Pesisir Serdang People (English Version)

BATAK PESISIR SERDANG PEOPLE
By: Wendy Hutahaean



Suku Karo Melayu Serdang adalah penduduk Melayu yang sebetulnya berasal dari suku Batak Karo Jahe di Kabupaten Deli Serdang, namun berpuluh tahun yang lalu memilih untuk meleburkan diri dalam budaya Melayu Serdang dengan membuang marga serta budaya Batak Karonya. Mereka umumnya tinggal di beberapa kecamatan pesisir pantai Kabupaten Deli Serdang bekas Kesultanan Serdang. Bila dilihat dari sisi fisik, postur masyarakat Karo Melayu Serdang sangat berbeda dengan masyarakat Melayu Serdang asli yang berasal dari Semenanjung Malaysia. Saat ini suku Karo Melayu Serdang lebih senang disebut dengan suku Melayu Serdang saja.




Traditional Clothes of Karo Melayu Serdang

A. Kesultanan Serdang

Kesultanan Serdang berdiri tahun 1723 dan bergabung dengan Republik Indonesia tahun 1946. Kesultanan ini berpisah dari Deli setelah sengketa tahta kerajaan pada tahun 1720. Seperti kerajaan-kerajaan lain di pantai timur Sumatera, Serdang menjadi makmur karena dibukanya perkebunan tembakaukaret, dan kelapa sawit. Serdang ditaklukkan tentara Hindia Belanda pada tahun 1865. Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani tahun 1907, Serdang mengakui kedaulatan Belanda, dan tidak berhak melakukan hubungan luar negeri dengan negara lain. Dalam peristiwa revolusi sosial di Sumatera Timur tahun 1946Sultan Serdang saat itu menyerahkan kekuasaannya pada aparat Republik.

Kesultanan Serdang

Wilayah kekuasaan Kesultanan Serdang meliputi:
1.    Batang Kuis (Kec. Batang Kuis - Deli Serdang)
2.    Padang 
3.    Bedagai (
4.    Percut (Kec. Percut Sei Tuan - Deli Serdang)
5.    Senembah,
6.    Araskabu dan
7.    Ramunia.
8.    Kemudian wilayah Perbaungan juga masuk dalam Kesultanan Serdang karena adanya ikatan perkawinan.1

Menurut riwayat, seorang Laksamana dari Sultan Iskandar Muda Aceh bernama Sri Paduka Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan, menikah dengan adik Raja Urung (negeri) Sunggal, sebuah daerah Batak Karo yang sudah masuk Melayu (sudah masuk Islam). Kemudian, oleh 4 Raja-Raja Urung Batak Karo yang sudah Islam tersebut, Laksamana ini diangkat menjadi raja di Deli pada tahun 1630. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana menjadi Raja Deli pertama. Dalam proses penobatan Raja Deli tersebut, Raja Urung Sunggal bertugas selaku Ulon Janji, yaitu mengucapkan taat setia dari Orang-Orang Besar dan rakyat kepada raja. Kemudian, terbentuk pula Lembaga Datuk Berempat, dan Raja Urung Sunggal merupakan salah seorang anggota Lembaga Datuk Berempat tersebut.1

Dalam perkembangannya, pada tahun 1723 terjadi kemelut ketika Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3 mangkat. Kemelut ini terjadi karena putera tertua Raja yang seharusnya menggantikannya memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor 2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian mengambil alih tahta dan mengusir adiknya, Tuanku Umar bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang.1

Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia putera garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli, yaitu Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembal, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itu, berdiri Kerajaan Serdang sebagai pecahan dari Kerajaan Deli.1

Kerajaan Serdang berdiri lebih dari dua abad, dari 1723 hingga 1946. Selama periode itu, telah berkuasa 5 orang Sultan. Sultan Serdang I adalah Tuanku Umar, kemudian ia digantikan oleh Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah (1767-1817). Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah beristerikan Tuangku Sri Alam, puteri Raja Perbaungan. Di masa Sultan Ainan Johan ini, terjadi penyatuan Kerajaan Serdang dan Perbaungan. Ceritanya, sewaktu Raja Perbaungan meninggal dunia, tidak ada orang yang berhak menggantikannya, sebab ia tidak memiliki anak laki-laki. Oleh karena anak perempuan Raja Perbaungan menikah dengan Sultan Serdang, maka akhirnya, Kerajaan Perbaungan digabung dengan Serdang. Jadi, penggabungan ini berlangsung semata-mata karena adanya hubungan kekerabatan, bukan karena peperangan.

Putera Ainan Johan Almashah yang tertua, Tuangku Zainal Abidin, diangkat menjadi Tengku Besar. Suatu ketika ia pergi berperang membantu mertuanya yang sedang terlibat perang saudara merebut tahta Langkat. Dalam peperangan membela mertuanya tersebut, ia terbunuh di Pungai (Langkat) dan digelar Marhom Mangkat di Pungai (1815). Untuk menggantikan putera mahkota (di Serdang disebut Tengku Besar) yang tewas, maka, adik putera mahkota, yaitu Tuanku Thaf Sinar Basyarshah kemudian diangkat sebagai penggantinya, dengan gelar yang sama: Tengku Besar. Ketika Sultan Johan Alamshah mangkat tahun 1817, adik Tuangku Zainal Abidin, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarsyah (memerintah 1817-1850) diangkat oleh Dewan Orang Besar menjadi raja menggantikan ayahnya. Ketika itu, sebenarnya Tuanku Zainal Abidin, Tengku Besar yang sudah tewas, memiliki putera, namun puteranya ini tidak berhak menjadi raja, sebab, ketika ayahnya meninggal dunia, statusnya masih sebagai Tengku Besar, bukan raja. Jadi, menurut adat Melayu Serdang, keturunan putera tertua tidak otomatis menjadi raja, karena sebab-sebab tertentu.1

Demikianlah, pemerintahan baru berganti dan keadaan terus berubah. Pada tahun 1865, Serdang ditaklukkan oleh Belanda. Selanjutnya, pada tahun 1907, Serdang menandatangani perjanjian dengan Belanda yang melarang Serdang berhubungan dengan negeri luar. Setelah bertahun-tahun dalam pengaruh Belanda, akhirnya, pada tahun 1946, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alamshah, Serdang bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.1

Struktur tertinggi di Kerajaan Serdang dipimpin oleh seorang Raja. Pada masa itu, peranan seorang raja adalah:1
1.    Sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan Serdang.
2.    Sebagai Kepala Agama Islam (Khalifatullah fi’l ardh)
3.    Sebagai Kepala Adat Melayu.

Pada masa pemerintahan raja yang ke-2, Tuanku Sultan Ainan Johan Almashah (1767-1817), tersusunlah Lembaga Orang Besar Berempat di Serdang yang berpangkat Wazir Sultan, yaitu:1
1.    Raja Muda (gelar ini kemudian berubah menjadi Bendahara)
2.    Datok Maha Menteri (wilayahnya di Araskabu)
3.    Datok Paduka Raja (wilayahnya di Batangkuwis) keturunan Kejeruan Lumu
4.    Sri Maharaja (wilayahnya di Ramunia).

Pembentukan Lembaga Orang Besar Berempat di Serdang ini, disebabkan Raja Urung Sunggal kembali ke Deli, sementara Raja Urung Senembah dan Raja Urung Tg. Merawa tetap menjadi raja di wilayah taklukan Serdang. Sultan Ainan Johan Almashah memperkokoh Lembaga Empat Orang Besar di atas berdasarkan fenomena alam dan hewan yang melambangkan kekuatan, seperti 4 penjuru mata angin (barat, timur, selatan, utara), kokohnya 4 kaki binatang dan azas Tungku Sejarangan (4 batu penyangga untuk masak makanan). Lembaga itu juga melambangkan sendi kekeluargaan pada masyarakat Melayu Sumatera Timur yaitu: suami, isteri, anak beru (menantu) dan Puang (mertua). Demikianlah, pembentukan lembaga di atas didasarkan pada akar budaya masyarakat Serdang sendiri. Selanjutnya, lembaga inilah yang berperan dalam upacara perkawinan maupun perhelatan besar.1

Selain para pejabat istana di atas, Sultan juga dibantu oleh Syahbandar (perdagangan) dan Temenggong (Kepala polisi dan keamanan). Sultan Serdang menjalankan hukum kepada rakyat berdasarkan Hukum Syariah Islam dan Hukum Adat seperti kata pepatah, “Adat bersendikan Hukum Syara, Hukum Syara’ bersendikan Kitabullah”.

·         1728-1782 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Syah bin Tuanku Panglima Paderap Kejeruan Junjungan, Raja Serdang
·         1782-1822 Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Syah ibni al-Marhum Tuanku Umar Al-Marhum Kacapuri, Raja Serdang.
·         1822-1851 Sultan Thaf Sinar Basyar Syah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah Al-Marhum Besar, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
·         1851-1879 Sri Sultan Muhammad Bashar ud-din Saif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah Al-Marhum Kota Batu, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
·         1879-1946 Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din Al-Marhum Perbaungan, Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
·         1946-1960 Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Kepala Rumah Tangga Istana Serdang
·         1960-2001 Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang
·         2001 Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan dan Kepala Rumah Tangga Istana Serdang.

Penulisan sejarah yang terlalu berorientasi politik, dengan titik fokus raja, keluarganya dan para pembesar istana menyebabkan sisi kehidupan sosial masyarakat awam jadi terlupakan. Oleh karena itu, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan data mengenai kehidupan sosial-budaya pada suatu kerajaan secara lengkap. Berikut ini, sedikit gambaran mengenai kehidupan sosial budaya di Kerajaan Serdang pada periode pemerintahan Sultan Thaf Sinar Basyar Syah.1

Di masa pemerintahannya, Serdang menjadi aman tenteram dan makmur karena perdagangan yang ramai. Ketika utusan Kerajaan Inggris dari Penang, Johan Anderson, mengunjungi Serdang tahun 1823, ia mencatat:1

1.    Perdagangan antara Serdang dengan Pulau Pinang sangat ramai (terutama lada dan hasil hutan).
2.    Sultan Thaf Sinar Basyar Syah (juga bergelar Sultan Besar) memerintah dengan lemah lembut, suka memajukan ilmu pengetahuan dan mempunyai sendiri kapal dagang pribadi.
3.    Industri rakyat dimajukan dan banyak pedagang dari pantai barat Sumatera (orang Alas) yang melintasi pegunungan Bukit Barisan menjual dagangannya ke luar negeri melalui Serdang.
4.    Baginda sangat toleran dan suka bermusyawarah dengan negeri-negeri yang tunduk kepada Serdang, termasuk orang-orang Batak dari Pedalaman.
5.    Cukai di Serdang cukup moderat.

Semua hal di atas bisa terjadi karena Sultan berpegang teguh pada pepatah adat Melayu. Di antara pepatah dan adat tersebut adalah:

·         secukap menjadi segantang, yang keras dibuat ladang, yang becek dilepaskan itik, air yang dalam diperlihara ikan;
·         genggam bara, biar sampai menjadi arang (sabar menderita mencapai kejayaan);
·         cencaru makan petang, bagai lebah menghimpun madu (meskipun lambat tetapi kerja keras maka pembangunan terlaksana);
·         hati Gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah (melaksanakan kerja pembangunan dengan berhasil baik bersama-sama).

Dalam perkembangannya, karena Sultan Thaf Sinar Basyar Syah ini amat berpegang teguh pada adat Melayu disertai sikap lemah lembut dan sopan, akhirnya banyak rakyat Batak di pedalaman yang masuk Melayu (Islam). Atas dasar jasa-jasanya, maka, ketika Sultan Thaf Sinar Basarshah mangkat pada tahun 1850, para Orang Besar dan rakyat Serdang memberikan penghormatan untuknya dengan gelar Marhom Besar.1



Wilayah Batak Karo Dusun di Kabupaten Deli Serdang terdiri dari beberapa kecamatan, yaitu:


1.    Kec. Biru-Biru
2.    Kec. Tanjong Morawa
3.    Kec. Hamparan Perak
4.    Kec. Sinembah Tanjung Muda Hilir
5.    Kec. Sinembah Tanjung Muda Hulu
6.    Kec. Kutalimbaru
7.    Kec. Sunggal
8.    Kec. Pancur Batu
9.    Kec. Sibolangit
10. Kec. Namo Rambe
11. Kec. Deli Tua
12. Kec. Patumbak


Sedangkan di Kecamatan Silimakuta dan Kecamatan Dolok Silau serta empat kecamatan bagian timur Kabupaten Deli Serdang ditempati oleh suku Batak Karo Timur. Wilayah suku Batak Karo Timur di Kabupaten Deli Serdang yaitu:

1. Kec. Lubuk Pakam (Kabupaten Deli Serdang)
2. Kec. Bangun Purba (Kabupaten Deli Serdang)
3. Kec. Galang (Kabupaten Deli Serdang)
4. Kec. Gunung Meriah (Kabupaten Deli Serdang)
5. Kec. Dolok Silau (Kabupaten Simalungun)
6. Kec. Silima Kuta (Kabupaten Simalungun)

Suku Batak Karo Dusun ini hidup berdampingan dengan masyarakat Karo Melayu Deli, yaitu suku suku Batak Karo Dusun yang memilih menjadi Melayu Deli dan membuang marga serta adat Batak Karo. Suku Karo Melayu Deli ini menempati beberapa kecamatan di pesisir pantai Deli Serdang, yaitu:

1.    Kec. Batang Kuis
2.    Kec. Beringin
3.    Kec. Labuhan Deli
4.    Kec. Pagar Merbau
5.    Kec. Pantai Labu
6.    Kec. Percut Sei Tuan

Suku Melayu Serdang adalah suku Melayu yang mendiami wilayah kabupaten Serdang Bedagai di provinsi Sumatra Utara. Suku Melayu Serdang ini banyak bermukim di wilayah Perbaungan, Sei Rampah, Bandar Kalipah dan lain-lain tersebar di seluruh kecamatan yang berada di kabupaten Serdang Bedagai provinsi Sumatra Utara.

Traditional Clothes of Melayu Serdang

Secara struktur fisik dan budaya, suku Melayu Serdang ini tidaklah berbeda dengan suku Melayu lainnya, seperti suku Melayu Deli, Melayu Langkat, Melayu Asahan, Melayu Labuhan Batu, Melayu Asahan dan Melayu Riau. Karena mereka semua berasal dan berakar dari satu budaya yang sama, hanya saja karena telah terpisah-pisah, sehingga terjadi perbedaan-perbedaan kecil yang tidak terlalu menyolok.

Suku Melayu Serdang, masih tetap mempertahankan budaya Melayu sejak tahun 1941. Salah satu kegiatan mereka yang selalu mengadakan rapat adat yang diadakan di balai adat, untuk membahas berbagai masalah dalam lingkungan adat mereka.

Traditional Dance of Melayu Serdang

Salah satu budaya tari dari suku Melayu Serdang yang terkenal adalah Tari Serampang Dua Belas. Tarian ini merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari.

Masyarakat suku Melayu Serdang, hampir seluruhnya memeluk agama Islam, seperti masyarakat Melayu lainnya yang menjadikan agama Islam sebagai agama Melayu dan agama Adat, beberapa budaya dan adat-istiadat disesuaikan dengan ajaran Islam. Tapi walaupun begitu mereka masih mempercayai berbagai hal takhyul dan hal-hal gaib serta tempat-tempat keramat yang menurut mereka bisa mempengaruhi kehidupan dan rejeki mereka.

Traditional House of Melayu Serdang

Suku Melayu Serdang berbicara menggunakan bahasa Melayu dialek Serdang. Bahasa Melayu Serdang, berbeda dengan bahasa Melayu Deli dalam hal dialek, tapi hampir sama dengan bahasa Melayu Langkat yang menggunakan dialek "e".

Salah satu tradisi budaya suku Melayu Serdang, adalah Tradisi Tepung Tawar. Tradisi ini terlihat bahwa dahulunya suku Melayu Serdang ini pernah memeluk agama Hindu atau pernah terlibat dengan budaya Hindu. Tradsi ini sebagai upacara untuk mengungkapkan rasa syukur akan sesuatu yang mereka dapatkan dengan melaksanakan upacara yang disebut Tepung Tawar. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Serdang sejak abad ke-15 dan dirubah dan disesuaikan dengan tatacara agama Islam.

Mata pencaharian suku Melayu Serdang adalah sebagian besar sebagai petani, selebihnya pedagang, perajin anyaman tikar, perajin atap rumbia dan perajin keranjang bumbu. Mereka juga berdagang pisang sale. Selain itu banyak juga dari mereka yang menjadi pegawai negeri di kantor-kantor pemerintah serta menjadi wiraswasta.
video
Melayu Serdang Song - Zapin Serdang

video
 Melayu Serdang Dance - Tari Serampang Duabelas

No comments:

Post a Comment