Featured Post

Monday, 15 April 2013

Batak Pesisir Kotapinang People (English Version)

BATAK PESISIR KOTAPINANG PEOPLE
by: Wendy Hutahaean


Batak Pesisir Kotapinang people was a Batak ethnic who live in Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Nowadays they claim themselves as Melayu Kotapinang because their religion is Islam and they left most of their Batak culture. Before the existance of Kesultanan Kotapinang, some Batak Angkola people from Marga Dalimunthe migrated to the land and opened Batak village.

A.   The Land

The land of Batak Pesisir Kotapinang people in Kabupaten Labuhanbatu Selatan consist of some districts, which are:

1. Kec. Kota Pinang, capital in Kota Pinang
2. Kec. Kampung Rakyat, capital in Tanjung Medan
3. Kec. Torgamba, capital in Cikampak
4. Kec. Sei Kanan, capital in Langga Payung
5. Kec. Silangkitang, capital in Aek Goti

Kabupaten Labuhanbatu Selatan


B.   Marga

Hundred years before 

1. Marga Dasopang
2. Marga Tamba
 
C. Language

Bahasa Melayu Kotapinang is the language used by Batak Pesisir Kotapinang nowadays.

D. Religion

Islam is the religion of most Batak Pesisir Kotapinang people.

Awal berdirinya, di daerah Kotapinang hanya dihuni dua suku besar Batak yakni Marga Dasopang dan Marga Tamba yakni di daerah sekitar 30 Km dari Kotapinang. Bekas kekuasaan kedua suku itu terlihat dari peninggalannya berupa kuburan. Kedua marga suku Batak inilah yang bertahun-tahun bermukim di kawasan itu.

Selama kedua suku itu berkuasa, timbul percekcokan bahkan sering terjadi perkelahian antara kedua suku, karena masing-masing ingin menguasai daerah itu. Karena perselisihan tak dapat diselesaikan, maka mereka sepakat suapaya kekuasaan diserahkan pada siapa pendatang di daerah itu. Mereka pun sama-sama mencari orang yang mampu memimpin daerah itu. Dalam usaha mencari siapa yang akan diangkat jadi pemimpin, kala itu kedua suku tersebut menemukan seorang pendatang bernama Batara Guru Pinayungan. Sesuai ikrar, maka Batara Guru Pinayungan diangkatlah menjadi raja dan mengayomi seluruh masyarakat termasuk warga di luar kedua suku besar tersebut.


Dalam kepemimpinan Batara Guru Pinayungan, suku Tamba dan Dasopang juga memilih pergi dari perkampungan tersebut untuk membuka perkampungan baru. Dalam masa pemerintahan raja itu juga diciptakan sistim keamanan dan rakyat setia kepada raja. Setelah raja meninggal dunia, maka otomatis kekuasaan beralih ke tangan anaknya. Tak jelas siapa nama anak Batara Guru Pinayungan. Namun oleh anaknya itu, kerajaan kemudian dipindahkan ke pinggir sungai Barumun tepatnya di seberang Labuhan Lama. Puing kerajaan itu sampai kini masih dapat dilihat.

A.   Marga Dasopang di Kotapinang

Marga Dasopang merupakan suku Batak asli yang menempati kawasan Kotapinang. Migrasi ini disebabkan perluasan wilayah garapan pertanian dan kekuasaan baru. Selama bertahun-tahun mereka mendiami wilayah ini sebelum kedatangan marga Tamba dan keturunan Pagaruyung Minangkabau sebagai awal Kesultanan Kotapinang.

Silsilah Marga Dasopang adalah sebagai berikut:

1. Si Raja Batak mempunyai anak Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon.
2. Raja Isumbaon mempunyai anak Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang
3. Tuan Sorimangaraja mempunyai anak Tuan Sorbadijulu/ Tuan Nabolon (Nai Ambaton), Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) dan Tuan Sorbadijae/ Datu Pejjel (Nai Rasaon).
4. Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) mempunyai anak Sibagot Ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan, Raja Oloan, Raja Hutalima, Raja Sumba, Raja Sobu dan Raja Naipospos.
5. Toga Sobu (Hasibuan) mempunyai anak Raja Sitompul dan Raja Hasibuan.
6. Raja Hasibuan mempunyai anak Raja Manjalo, Guru Mangaloksa, Guru Marjalang, Guru Hinobaan dan Guru Maniti.
7. Guru Mangaloksa mempunyai anak Hutabarat, Panggabean, Hutagalung dan Hutatoruan.
8. Raja Hutagalung mempunyai anak Raja Miralopak dan Raja Inaina.
9. Raja Inaina mempunyai anak Inaina, Dasopang dan Matung.

Jika dilihat dari silsilah batak di atas, Raja Hasibuan mempunyai anak yaitu Guru Hinobaan dan Guru Mangaloksa. Keturunan Raja Manjalo menetap di tanah leluhurnya yaitu di Toba dan memakai marga Hasibuan, sedangkan keturunan Guru Mangaloksa disebut Siopat Pusoran hijrah ke Silindung. Keturunan Raja Hutagalung dari Raja Miralopak tetap tinggal di Silindung dan daerah sekitarnya dan memakai marga Hutagalung, sedangkan keturunan Raja Inaina hijrah ke daerah Angkola dan Padanglawas serta menggunakan Marga Dasopang, Matung dan Hutagalung. Beberapa keturunan marga Dasopang banyak yang migrasi ke wilayah Kotapinang yaitu hulu sungai Barumun dan mendirikan pemukiman di sana dengan menggunakan marga Dasopang, namun tidak ada raja yang memerintah di sana.

B.   Marga Tamba di Kotapinang

Marga Tamba merupakan suku Batak asli yang menempati kawasan Kotapinang. Migrasi ini disebabkan perluasan wilayah garapan pertanian dan kekuasaan baru. Selama bertahun-tahun mereka mendiami wilayah ini dan bertetangga dengan marga Dasopang sebagai pemukim terdahulu wilayah Kotapinang.

Silsilah Marga Tamba adalah sebagai berikut:

1. Si Raja Batak mempunyai anak Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon.
2. Raja Isumbaon mempunyai anak Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang
3. Tuan Sorimangaraja mempunyai anak Tuan Sorbadijulu/ Tuan Nabolon (Nai Ambaton), Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) dan Tuan Sorbadijae/ Datu Pejjel (Nai Rasaon).
4. Tuan Sorbadijulu mempunyai anak Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua dan Munte Tua
5. Tamba Tua mempunyai anak Tuan Sitonggor (Rumabolon), Tuan Lumban Tongatonga dan Tuan Lumban Toruan. Marga inilah yang sebagian besar memakai marga Tamba.

       a.    Tuan Sitonggor (Rumabolon) mempunyai 4 anak , yaitu:
1)    Maria Raja (menggunakan Marga Tamba)
2)    Pande Raja (menggunakan Marga Siallagan)
3)    Manggohi Raja (menggunakan Marga Tamba dan Turnip)
4)    Simata Raja (menggunakan Marga Tamba)

b.    Tuan Lumban Tongatonga mempunyai 2 anak, yaitu:
1)    Raja Si Rumaganjang mempunyai 3 anak, yaitu:
a)    Guru Satea Bulan (menggunakan Marga Tamba)
b)    Guru Sinanti (menggunakan Marga Tamba)
c)    Guru Parngongo, mempunyai 7 anak, yaitu:
(1)  Guru Sitindion mempunyai 2 anak, yaitu:
·   Sidabutar (menggunakan Marga Sidabutar)
·   Sijabat (menggunakan Marga Sijabat, Gusar, Ginting Jawak dan Saragi Dajawak)
·   Siadari (menggunakan Marga Siadari)
·   Sidabalok (menggunakan Marga Sidabalok)
(2)  Raja Nialapan (menggunakan Marga Tamba)
(3)  Guru Saoan (menggunakan Marga Tamba)
(4)  Parjarunjung (menggunakan Marga Tamba)
(5)  Simata Raja (menggunakan Marga Tamba)
(6)  Guru Tinandangan (menggunakan Marga Tamba)
(7)  Raja Marhati Ulubalang (menggunakan Marga Tamba)
2)    Raja Si Lumban Uruk (menggunakan Marga Tamba)

c.    Tuan Lumban Toruan mempunyai 2 anak, yaitu:
1.    Rumaroha (menggunakan Marga Tamba)
2.    Rumahorbo mempunyai 2 anak, yaitu:
a)    Raja Diuruk (menggunakan Marga Tamba dan Sidauruk)
b)    Tuan Dihorbo mempunyai 2 anak, yaitu:
(1)  Datu Upar (menggunakan Marga Tamba)
(2)  Guru Sumundut mempunyai 3 anak
·         Rumahorbo (menggunakan Marga Rumahorbo)
·         Napitu (menggunakan Marga Napitu)
·         Sitio (menggunakan Marga Sitio)

Keturunan Tambatua pada mulanya pergi ke wilayah Tamba di Pandiangan pulau Samosir, kemudian beberapa pindah ke Humbang, Silindung, Angkola, Padanglawas dan Kotapinang. Di wilayah Kotapinang marga Tamba bertetangga dengan marga Dasopang, namun konflik seringkali timbul antar kedua marga tersebut akibat tidak adanya raja penguasa di wilayah Kotapinang.

C.   Kedatangan Sultan Batara Sinombah dari Minangkabau

Selama suku Batak dari Marga Dasopang dan Marga Tamba itu berkuasa, timbul percekcokan bahkan sering terjadi perkelahian antara kedua suku, karena masing-masing ingin menguasai daerah itu. Karena perselisihan tak dapat diselesaikan, maka mereka sepakat suapaya kekuasaan diserahkan pada siapa pendatang di daerah itu. Mereka pun sama-sama mencari orang yang mampu memimpin daerah itu. Dalam usaha mencari siapa yang akan diangkat jadi pemimpin, kala itu kedua suku tersebut menemukan seorang pendatang bernama Batara Guru Pinayungan. Sesuai ikrar, maka Batara Guru Pinayungan diangkatlah menjadi raja dan mengayomi seluruh masyarakat termasuk warga di luar kedua suku besar tersebut.

Sultan Batara Sinombah alias Batara Guru Gorga Pinayungan bersama saudaranya Batara Payung dan saudara tirinya perempuan Putri Lenggani meninggalkan Negeri Pagaruyung pergi ke daerah Mandailing. Dalam perjalanannya, Batara Payung memutuskan untuk tinggal di Mandailing dan menjadi asal-usul raja-raja di daerah itu. Sedangkan Batara Sinombah dan Puteri Lenggani meneruskan perjalanannya sampai ke Hotang Mumuk (Pinang Awan). Batara Guru Pinayungan memiliki kesaktian yang tinggi. Dia datang dari Pagaruyung melayang dan terdampar di Kotapinang. Sultan Batara Sinombah merupakan keturunan dari alam Minang Kabau Negeri Pagaruyung yang bernama Sultan Alamsyah Syaifuddin.

Setelah diangkat dan didaulat sebagai raja, Batara Guru Pinayungan menjadi raja dan bertempat tinggal di Kotapinang. Saat itu Lingga Gani ikut bersamanya memimpin desa kecil tersebut. Sedangkan Batara Guru Payung berpisah dari mereka dan pergi menuju tanah Mandailing bersama seekor anjing bernama Sipagatua.
Berdasarkan sejumlah bukti sejarah berupa kuburan dan sebagainya, diperkirakan Kotapinang telah berdiri sejak 250 tahun lalu. Menurut Hj Tengku Aznah seorang tetua di daerah itu, asal nama Kotapinang sendiri diambil dari kata Huta Pinangaon, yang artinya pinang yang mengawan atau pinang yang menjulang sampai ke awan. Pinang itu menurut cerita tumbuh di depan istana kesultanan Kotapinang.

Raja Pinang Awan (Kotapinang) Batara Sinombah (Marhom Mangkat Di Jambu) dari perkawinannya dengan permaisuri bermarga Dasopang memperoleh 2 orang putera dan seorang puteri bernama SITI ONGGU (Puteri Berinai). Kemudian ia kawin lagi dengan seorang hambanya bermarga Tamba dan memperoleh seorang putera. Wanita hamba ini dapat mempengaruhi Batara Sinomba agar puteranyalah yang akan menggantikan kelaksebagai raja sehingga kedua orang putera raja dari Ibu Gahara itu lalu diusir. Akhirnya mereka minta tolong kepada Sultan Aceh yang balatenteranya lewat di situ. Sultan Aceh lalu mengirim pasukan dipimpin Raja Muda Pidie. Pasukan Aceh lalu membunuh Batara  Sinomba dekat sebuah pohon Jambu, dan mengangkat kedua orang putera raja dari ibu gahara itu sebagai raja disana, tetapi sebagai balas jasa mereka mengambil Siti Onggu sebagai isteri Sultan Aceh. Anak Sultan Aceh dari Putri Kotapinang yang bernama Sultan Jalil inilah kelak yang mendirikan Kesultanan Asahan.

D.   Kesimpulan

Masyarakat asli wilayah Kotapinang adalah suku Batak dari Marga Dasopang dan Marga Tamba. Akibat konflik berkepanjangan antar kedua marga ini yang disebabkan keduanya ingin memerintah di wilayah ini, maka disepakati untuk mencari raja dari kaum pendatang yang dapat mengayomi mereka secara adil. Kedatangan Batara Sinombah yang merupakan suku pendatang Minangkabau dan berkekuatan sakti menarik minat kedua marga suku Batak itu untuk mengangkatnya sebagai Sultan yang memerintah wilayah Kotapinang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penduduk asli Kotapinang adalah suku Batak marga Dasopang dan Tamba, sedangkan keturunan Sultan yang berasal dari Minangkabau merupakan suku pendatang yang jumlahnya terbatas. Sehingga, pada hakikatnya budaya Kotapinang bukanlah budaya Melayu, melainkan perpaduan budaya dari masyrakat yang Batak dan Sultan yang Minangkabau.


Refference:


No comments:

Post a Comment