Featured Post

Friday, 12 April 2013

Batak Pesisir Kualuh People (English Version)

BATAK PESISIR KUALUH PEOPLE
by: Wendy Hutahaean


Batak Pesisir Kualuh people was a Batak ethic who live in Kabupaten Labuhanbatu Utara. Nowadays they prefer to be called as Melayu Kualuh since Kesultanan Kualuh convert them into Islam and left their Batak cultures. Before the existence of Kesultanan Kualuh, Batak people from marga Dalimunthe had built Batak villages and practiced Batak culture. 

A.   The Land

The land of Batak Nadolok people covered some district of Kabupaten Labuhanbatu Utara, which are:

1. Kec. Kualuh Hilir, capital in Kampung Masjid
2. Kec. Kualuh Hulu, capital in Aek Kanopan
3. Kec. Kualuh Leidong, capital in Tanjung Leidong
4. Kec. Kualuh Selatan, capital in Damuli


B. History

The name of Kualuh is taken from the name of the river that watering the area, Sungai Kualuh. There are seven rivers that flow into Sungai Kulauh, which are:



1. Sungai Air Hitam, 

2. Sunge Ledong, 
3. Sungai Aek Kuo, 
4. Sungai Aek Kanopan, 
5. Sungai Aek Natas, 
6. Sungai Simangalam. 
7. Sungai Aek Rimo, dan 
8. Sungai Aek Tombus. 

In the language of Batak Nadolok (people who live in the headwater of Sungai Kualuh), eight means "walu". They called the area as Nawalu because it has eight rivers. However, Melayu people who came later pronounced the name of the area as Kuwaluh as it has eight rivers. However, because the influence of Melayu culture is stronger than Batak culture, the area finally called as Kualuh and the Melayu people who live there is called as Kualuh people.


Kesultanan Kualuh was


A.   Kehidupan Suku Batak Nadolok

Kemasyhuran Sungai Kualuh, adalah salah satu bukti peninggalan berbagai sejarah panjang kehidupan rakyat dimasa lalu, sebab dahulu sungai merupakan pusat  budaya kehidupan manusia untuk bertahan hidup, sejalan dengan sungai sebagai jalan tol bebas hambatannya manusia kala itu. Sungai Kualuh mengalir dari Parsoburan di Tapanuli Utara sampai ke Kualuh Leidong.

Diperkirakan Sungai Kualuh ini dahulu kala, menjadi salah satu jalur lalu lintas migrasi rakyat Batak dari Parsoburan, Porsea, Balige, Tapanuli Utara, umumnya ke kawasan pantai timur. Disamping itu, melalui darat migrasi terjadi melalui Tangga Damuli, mengarah ke kawasan Kecamatan Aek Natas dan Na IX-X. Maka sampai sekarang banyak masyarakat yang ada di Labura dari etnis Batak Toba.

Masyarakat Batak Nadolok yang hidup di daerah aliran sungai Kualuh bertetanga dengan masyarakat Batak Pardembanan yang hidup di sebelah utara di aliran sungai Asahan. Suku Batak Nadolok ini menurunkan marga Nadolok yang sampai saat ini masih dipakai sebahagian penduduk Batak Nadolok yang wilayah aslinya meliputi kecamatan NA IX-X, Aek Natas, Aek Kuo, dan Marbau di Kabupaten Labuhan Batu Utara sekarang.

B.   Penaklukan Sultan Asahan atas wilayah Batak Pardembanan dan Batak Nadolok

Pada tahun 1539 Sultan Aceh Sultan Mahkota Alam Alauddinriayatsyah (Syah Johan) ingin meminang Puteri Hijau di tanah Deli-Tua. Meskipun usahanya itu tidak berhasil karena Puteri Hijau lolos ke laut, maka bala tentera Aceh itu harus menyusuri pantai arah ke Selatan. Sesampainya di sebuah muara sungai besar, sungai Asahan, maka dimasukilah sungai itu mudik dan ternyata tidak ada ditemui penduduk. Sesampainya di kampung Tulawan, baru ditemui penduduk Batak yang tidak tahu bahasa Melayu. Untunglah disitu ada seorang hulubalang bernama Bayak Lengga Haro-haro yang tahu berbahasa Melayu, yang mengatakan bahwa Raja disitu adalah Kerajaan Simargolang Suku Batak Pardembanan. Sultan Aceh lalu menyuruh agar penduduk pindah ke pertemuan sungai Silau dengan sungai Asahan, dan kemudian lahirlah nama Tanjung Balai.

Singkat cerita, akhirnya Sultan Aceh Syah Johan ini menikah dengan putri raja Batak Kotapinang Batara Sinomba bernama Siti Onggu. Anak mereka bernama Sultan Abdul Jalil menjadi Sultan Asahan pertama yang tunduk di bawah kekuasaan Aceh yaitu ayahnya sendiri. Sebagai Sultan yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya, dia berhasil menundukkan tiga Kerajaan Batak Pardembanan di wilayah hulu sungai Asahan termasuk menguasai wilayah sekitar hulu sungai Kualuh dan Leidong tempat bermukimnya suku Batak Nadolok.

Selama beberapa generasi Kesultanan Asahan menguasai wilayah Batak Pardembanan dan Batak Nadolok. Hingga pada saat Sultan Musa Shah meninggal pada 1808, meninggalkan seorang putra anumerta. Namun, aturan suksesi tidak memungkinkan satu hari untuk berlalu antara pemakaman mantan penguasa dan proklamasi penggantinya. Akibatnya, adiknya berhasil sebagai Syah Ali Raja '. Beberapa bangsawan, terutama mereka yang termasuk masyarakat Batak, tidak menerima penguasa baru. Raja Musa Shah bayi pangeran dibawa ke Kualuh dan memproklamirkan sebagai penguasa, akhirnya diterima sebagai penguasa atau Wakil Yang Dipertuan Muda di wilayah Kualuh. Itulah awal mula berdirinya Kesultanan Kualuh Leidong yang terpisah dari Asahan.

Sementara itu, putra Raja Ali Shah didirikan kebebasannya dari Aceh dan diberikan gelar Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. Pemerintahan panjang empat puluh enam tahun menyaksikan meningkatkan kontak komersial Eropa, dan kesimpulan dari kontrak dengan pemerintah Hindia. Kematiannya pada 1859, diendapkan sengketa suksesi antara keturunan Raja Shah Musa dan orang-orang Shah Ali Raja '.

Hubungan yang buruk dengan Belanda tidak membantu Sultan Ahmad Shah. Mereka mengusirnya pada tahun 1865 dan memproklamirkan cucu Raja Musa Shah sebagai Shah Ni'matu'llah Sultan. Namun, langkah ini tidak menyelesaikan apa-apa, Sultan Ahmad Shah pindah pedalaman dan mempertahankan kekuasaannya, keluar dari jangkauan kapal perang Belanda. Sultan Ni'matu'llah tidak mampu membangun kekuasaannya, sehingga Belanda dihapus dia sebagai Sultan Asahan pada tahun 1868. Wilayah tanah lungguh yang setia Ni'matu'llah menjadi negara baru Kualuh. Setelah dua puluh tiga tahun bertempur intermiten dan diikuti oleh periode gencatan senjata dan jalan buntu, penyelesaian yang disepakati antara semua tiga partai pada tahun 1886. Gubernur-Jenderal Hindia diakui secara resmi sebagai Sultan Ahmad Shah Asahan sekali lagi.

Sultan Muhammad Shah II Husain Rahmad menggantikan ayahnya dua tahun kemudian dan memimpin periode kemakmuran ekonomi yang luas. Mati pada tahun 1915, putranya, Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, berhasil di puncak boom karet Perang Besar. Ini janji awal dari sebuah pemerintahan menguntungkan jatuh pendek dalam tiga puluh tahun. Perang Dunia Kedua terbukti menjadi suatu DAS. Kekejaman Jepang dan penindasan kolonialisme Belanda diganti, hanya untuk digantikan oleh pertumpahan darah mengerikan yang lewat untuk "revolusi sosial". Kejahatan dari mereka kali tidak berakhir secepat Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kontrol sedangkan kaum republiken Jawa dan Aceh berusaha untuk mengusir Belanda. Sejumlah besar aristokrasi tewas dalam konflik, kekacauan memerintah tertinggi dan negara-negara semua tapi tidak berfungsi. Pada akhir permusuhan, kesultanan tidak dikembalikan tetapi diserap ke dalam Republik. Sultan tua tinggal di selama tiga puluh empat tahun, pemerintahan terpanjang dalam sejarah rumahnya.

Berbeda dengan penguasa tradisional di bagian lain di Indonesia, tidak ada kesultanan Sumatera telah dipulihkan atau kepala mereka diakui dalam. Namun demikian, kampanye yang kuat untuk pemulihan mereka terus di antara masyarakat Melayu, digagalkan oleh rasa takut pemisahan dan kemungkinan hilangnya pendapatan minyak yang berharga oleh pemerintah di Jakarta.

C.   Masyarakat Asli Labuhan Batu Utara adalah Suku Batak Nadolok, Bukan Melayu Kualuh

Dari keterangan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penduduk asli Labuhan Batu Utara adalah Suku Batak Nadolok yang hidup di hulu Sungai Kualuh sebagai petani. Kedatangan Sultan Syah Johan dari Aceh, pada akhirnya meciptakan berdirinya Kesultanan Asahan melalui anaknya Sultan Abdul Jalil yang berhasil menginvasi wilayah Batak Pardembanan dan Batak Nadolok Sebagai bagian dari Kesultananan Asahan.



Gejolak kemudian muncul ketika Sultan Musa Syah meninggal dan tahta direbut paksa oleh Sultan Ali Syah. Masyarakat Kualuh termasuk Suku Batak Nadolok yang sudah menjadi Islam dan tunduk kepada kesultanan merasa tidak terima karena seharusnya anak kandung Sultan Musa Syah lah yang berhak menggantikan ayahnya sebagai sultan. Maka mereka membawa anaknya Sultan Musa Syah yang masih bayi dan menjadikannya Sultan Kualuh Lediong. Itulah tonggak berdirinya Kesultanan Kualuh Leidong.

Hanya keturunan asli Sultan Asahan yang menjadi Sultan Kualuh Leidong yang dapat dikategorikan sebagai Suku Aceh ataupun Melayu Kualuh dari sisi keturunan, itupun merupakan pendatang. Sementara itu Suku Batak Nadolok telah menetap jauh lebih dahulu dari kedatangan Sultan Aceh, apalagi Sultan pertama Kualuh Leidong.

Traditional Dance of Batak Nadolok

Sungai Kualuh ini berdasarkan letak geografisnya, dari sebelah hulu di Tapanuli Utara, namanya adalah Aek Kualuh. Sementara mulai dari kampung Aek Baringin sampai ke hilir di muara selat malaka dinamai Sungai (Sunge) Kualuh, ada perobahan  penamaan, mungkin penyesuaian karena dihilir penduduknya orang melayu. Namun tetap berlandaskan nama Kualuh, hanya ada perubahan antara kata Aek di hulu, dan kata Sungai (Sunge) di hilir.

Traditional Houses of Batak Nadolok


Sumber:

No comments:

Post a Comment