Featured Post

Friday, 4 January 2013

Batak Kotapinang: Labuhan Batu Selatan bukan Melayu

BATAK KOTAPINANG DI LABUHANBATU SELATAN

Batak Kotapinang di Labuhan Batu Selatan

Awal berdirinya, di daerah Kotapinang hanya dihuni dua suku besar Batak yakni Marga Dasopang dan Marga Tamba yakni di daerah sekitar 30 Km dari Kotapinang. Bekas kekuasaan kedua suku itu terlihat dari peninggalannya berupa kuburan. Kedua marga suku Batak inilah yang bertahun-tahun bermukim di kawasan itu.

Selama kedua suku itu berkuasa, timbul percekcokan bahkan sering terjadi perkelahian antara kedua suku, karena masing-masing ingin menguasai daerah itu. Karena perselisihan tak dapat diselesaikan, maka mereka sepakat suapaya kekuasaan diserahkan pada siapa pendatang di daerah itu. Mereka pun sama-sama mencari orang yang mampu memimpin daerah itu. Dalam usaha mencari siapa yang akan diangkat jadi pemimpin, kala itu kedua suku tersebut menemukan seorang pendatang bernama Batara Guru Pinayungan. Sesuai ikrar, maka Batara Guru Pinayungan diangkatlah menjadi raja dan mengayomi seluruh masyarakat termasuk warga di luar kedua suku besar tersebut.

Peta Labuhan Batu Selatan

Dalam kepemimpinan Batara Guru Pinayungan, suku Tamba dan Dasopang juga memilih pergi dari perkampungan tersebut untuk membuka perkampungan baru. Dalam masa pemerintahan raja itu juga diciptakan sistim keamanan dan rakyat setia kepada raja. Setelah raja meninggal dunia, maka otomatis kekuasaan beralih ke tangan anaknya. Tak jelas siapa nama anak Batara Guru Pinayungan. Namun oleh anaknya itu, kerajaan kemudian dipindahkan ke pinggir sungai Barumun tepatnya di seberang Labuhan Lama. Puing kerajaan itu sampai kini masih dapat dilihat.

A.   Marga Dasopang di Kotapinang

Marga Dasopang merupakan suku Batak asli yang menempati kawasan Kotapinang. Migrasi ini disebabkan perluasan wilayah garapan pertanian dan kekuasaan baru. Selama bertahun-tahun mereka mendiami wilayah ini sebelum kedatangan marga Tamba dan keturunan Pagaruyung Minangkabau sebagai awal Kesultanan Kotapinang.

Silsilah Marga Dasopang adalah sebagai berikut:

1. Si Raja Batak mempunyai anak Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon.
2. Raja Isumbaon mempunyai anak Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang
3. Tuan Sorimangaraja mempunyai anak Tuan Sorbadijulu/ Tuan Nabolon (Nai Ambaton), Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) dan Tuan Sorbadijae/ Datu Pejjel (Nai Rasaon).
4. Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) mempunyai anak Sibagot Ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan, Raja Oloan, Raja Hutalima, Raja Sumba, Raja Sobu dan Raja Naipospos.
5. Toga Sobu (Hasibuan) mempunyai anak Raja Sitompul dan Raja Hasibuan.
6. Raja Hasibuan mempunyai anak Raja Manjalo, Guru Mangaloksa, Guru Marjalang, Guru Hinobaan dan Guru Maniti.
7. Guru Mangaloksa mempunyai anak Hutabarat, Panggabean, Hutagalung dan Hutatoruan.
8. Raja Hutagalung mempunyai anak Raja Miralopak dan Raja Inaina.
9. Raja Inaina mempunyai anak Inaina, Dasopang dan Matung.

Jika dilihat dari silsilah batak di atas, Raja Hasibuan mempunyai anak yaitu Guru Hinobaan dan Guru Mangaloksa. Keturunan Raja Manjalo menetap di tanah leluhurnya yaitu di Toba dan memakai marga Hasibuan, sedangkan keturunan Guru Mangaloksa disebut Siopat Pusoran hijrah ke Silindung. Keturunan Raja Hutagalung dari Raja Miralopak tetap tinggal di Silindung dan daerah sekitarnya dan memakai marga Hutagalung, sedangkan keturunan Raja Inaina hijrah ke daerah Angkola dan Padanglawas serta menggunakan Marga Dasopang, Matung dan Hutagalung. Beberapa keturunan marga Dasopang banyak yang migrasi ke wilayah Kotapinang yaitu hulu sungai Barumun dan mendirikan pemukiman di sana dengan menggunakan marga Dasopang, namun tidak ada raja yang memerintah di sana.

B.   Marga Tamba di Kotapinang

Marga Tamba merupakan suku Batak asli yang menempati kawasan Kotapinang. Migrasi ini disebabkan perluasan wilayah garapan pertanian dan kekuasaan baru. Selama bertahun-tahun mereka mendiami wilayah ini dan bertetangga dengan marga Dasopang sebagai pemukim terdahulu wilayah Kotapinang.

Silsilah Marga Tamba adalah sebagai berikut:

1. Si Raja Batak mempunyai anak Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon.
2. Raja Isumbaon mempunyai anak Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang
3. Tuan Sorimangaraja mempunyai anak Tuan Sorbadijulu/ Tuan Nabolon (Nai Ambaton), Tuan Sorbadibanua (Nai Suanon) dan Tuan Sorbadijae/ Datu Pejjel (Nai Rasaon).
4. Tuan Sorbadijulu mempunyai anak Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua dan Munte Tua
5. Tamba Tua mempunyai anak Tuan Sitonggor (Rumabolon), Tuan Lumban Tongatonga dan Tuan Lumban Toruan. Marga inilah yang sebagian besar memakai marga Tamba.

       a.    Tuan Sitonggor (Rumabolon) mempunyai 4 anak , yaitu:
1)    Maria Raja (menggunakan Marga Tamba)
2)    Pande Raja (menggunakan Marga Siallagan)
3)    Manggohi Raja (menggunakan Marga Tamba dan Turnip)
4)    Simata Raja (menggunakan Marga Tamba)

b.    Tuan Lumban Tongatonga mempunyai 2 anak, yaitu:
1)    Raja Si Rumaganjang mempunyai 3 anak, yaitu:
a)    Guru Satea Bulan (menggunakan Marga Tamba)
b)    Guru Sinanti (menggunakan Marga Tamba)
c)    Guru Parngongo, mempunyai 7 anak, yaitu:
(1)  Guru Sitindion mempunyai 2 anak, yaitu:
·   Sidabutar (menggunakan Marga Sidabutar)
·   Sijabat (menggunakan Marga Sijabat, Gusar, Ginting Jawak dan Saragi Dajawak)
·   Siadari (menggunakan Marga Siadari)
·   Sidabalok (menggunakan Marga Sidabalok)
(2)  Raja Nialapan (menggunakan Marga Tamba)
(3)  Guru Saoan (menggunakan Marga Tamba)
(4)  Parjarunjung (menggunakan Marga Tamba)
(5)  Simata Raja (menggunakan Marga Tamba)
(6)  Guru Tinandangan (menggunakan Marga Tamba)
(7)  Raja Marhati Ulubalang (menggunakan Marga Tamba)
2)    Raja Si Lumban Uruk (menggunakan Marga Tamba)

c.    Tuan Lumban Toruan mempunyai 2 anak, yaitu:
1.    Rumaroha (menggunakan Marga Tamba)
2.    Rumahorbo mempunyai 2 anak, yaitu:
a)    Raja Diuruk (menggunakan Marga Tamba dan Sidauruk)
b)    Tuan Dihorbo mempunyai 2 anak, yaitu:
(1)  Datu Upar (menggunakan Marga Tamba)
(2)  Guru Sumundut mempunyai 3 anak
·         Rumahorbo (menggunakan Marga Rumahorbo)
·         Napitu (menggunakan Marga Napitu)
·         Sitio (menggunakan Marga Sitio)

Keturunan Tambatua pada mulanya pergi ke wilayah Tamba di Pandiangan pulau Samosir, kemudian beberapa pindah ke Humbang, Silindung, Angkola, Padanglawas dan Kotapinang. Di wilayah Kotapinang marga Tamba bertetangga dengan marga Dasopang, namun konflik seringkali timbul antar kedua marga tersebut akibat tidak adanya raja penguasa di wilayah Kotapinang.

C.   Kedatangan Sultan Batara Sinombah dari Minangkabau

Selama suku Batak dari Marga Dasopang dan Marga Tamba itu berkuasa, timbul percekcokan bahkan sering terjadi perkelahian antara kedua suku, karena masing-masing ingin menguasai daerah itu. Karena perselisihan tak dapat diselesaikan, maka mereka sepakat suapaya kekuasaan diserahkan pada siapa pendatang di daerah itu. Mereka pun sama-sama mencari orang yang mampu memimpin daerah itu. Dalam usaha mencari siapa yang akan diangkat jadi pemimpin, kala itu kedua suku tersebut menemukan seorang pendatang bernama Batara Guru Pinayungan. Sesuai ikrar, maka Batara Guru Pinayungan diangkatlah menjadi raja dan mengayomi seluruh masyarakat termasuk warga di luar kedua suku besar tersebut.

Sultan Batara Sinombah alias Batara Guru Gorga Pinayungan bersama saudaranya Batara Payung dan saudara tirinya perempuan Putri Lenggani meninggalkan Negeri Pagaruyung pergi ke daerah Mandailing. Dalam perjalanannya, Batara Payung memutuskan untuk tinggal di Mandailing dan menjadi asal-usul raja-raja di daerah itu. Sedangkan Batara Sinombah dan Puteri Lenggani meneruskan perjalanannya sampai ke Hotang Mumuk (Pinang Awan). Batara Guru Pinayungan memiliki kesaktian yang tinggi. Dia datang dari Pagaruyung melayang dan terdampar di Kotapinang. Sultan Batara Sinombah merupakan keturunan dari alam Minang Kabau Negeri Pagaruyung yang bernama Sultan Alamsyah Syaifuddin.

Setelah diangkat dan didaulat sebagai raja, Batara Guru Pinayungan menjadi raja dan bertempat tinggal di Kotapinang. Saat itu Lingga Gani ikut bersamanya memimpin desa kecil tersebut. Sedangkan Batara Guru Payung berpisah dari mereka dan pergi menuju tanah Mandailing bersama seekor anjing bernama Sipagatua.
Berdasarkan sejumlah bukti sejarah berupa kuburan dan sebagainya, diperkirakan Kotapinang telah berdiri sejak 250 tahun lalu. Menurut Hj Tengku Aznah seorang tetua di daerah itu, asal nama Kotapinang sendiri diambil dari kata Huta Pinangaon, yang artinya pinang yang mengawan atau pinang yang menjulang sampai ke awan. Pinang itu menurut cerita tumbuh di depan istana kesultanan Kotapinang.

Raja Pinang Awan (Kotapinang) Batara Sinombah (Marhom Mangkat Di Jambu) dari perkawinannya dengan permaisuri bermarga Dasopang memperoleh 2 orang putera dan seorang puteri bernama SITI ONGGU (Puteri Berinai). Kemudian ia kawin lagi dengan seorang hambanya bermarga Tamba dan memperoleh seorang putera. Wanita hamba ini dapat mempengaruhi Batara Sinomba agar puteranyalah yang akan menggantikan kelaksebagai raja sehingga kedua orang putera raja dari Ibu Gahara itu lalu diusir. Akhirnya mereka minta tolong kepada Sultan Aceh yang balatenteranya lewat di situ. Sultan Aceh lalu mengirim pasukan dipimpin Raja Muda Pidie. Pasukan Aceh lalu membunuh Batara  Sinomba dekat sebuah pohon Jambu, dan mengangkat kedua orang putera raja dari ibu gahara itu sebagai raja disana, tetapi sebagai balas jasa mereka mengambil Siti Onggu sebagai isteri Sultan Aceh. Anak Sultan Aceh dari Putri Kotapinang yang bernama Sultan Jalil inilah kelak yang mendirikan Kesultanan Asahan.

D.   Kesimpulan

Masyarakat asli wilayah Kotapinang adalah suku Batak dari Marga Dasopang dan Marga Tamba. Akibat konflik berkepanjangan antar kedua marga ini yang disebabkan keduanya ingin memerintah di wilayah ini, maka disepakati untuk mencari raja dari kaum pendatang yang dapat mengayomi mereka secara adil. Kedatangan Batara Sinombah yang merupakan suku pendatang Minangkabau dan berkekuatan sakti menarik minat kedua marga suku Batak itu untuk mengangkatnya sebagai Sultan yang memerintah wilayah Kotapinang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penduduk asli Kotapinang adalah suku Batak marga Dasopang dan Tamba, sedangkan keturunan Sultan yang berasal dari Minangkabau merupakan suku pendatang yang jumlahnya terbatas. Sehingga, pada hakikatnya budaya Kotapinang bukanlah budaya Melayu, melainkan perpaduan budaya dari masyrakat yang Batak dan Sultan yang Minangkabau.

21 comments:

  1. suka sekali dengan postingannya bang !
    salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih ya saudara Harris...
      Silakan berkunjung kembali...

      Delete
  2. Mencerahkan tulisan ini. Sebagai orang Kota Pinang, saya jadi paham sosio-kultur-histori daerah ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian orang Karo, Angkola, dan Mandailing tidak menyebut dirinya sebagai bagian dari suku Batak. Wacana itu muncul disebabkan karena pada umumnya kategori "Batak" dipandang rendah oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu, perbedaan agama juga menyebabkan sebagian orang Tapanuli tidak ingin disebut sebagai Batak. Di pesisir timur laut Sumatera, khususnya di Kota Medan, perpecahan ini sangat terasa. Terutama dalam hal pemilihan pemimpin politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi. Sumber lainnya menyatakan kata Batak ini berasal dari rencana Gubernur Jenderal Raffles yang membuat etnik Kristen yang berada antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Islam Minangkabau, di wilayah Barus Pedalaman, yang dinamakan Batak. Generalisasi kata Batak terhadap etnik Mandailing (Angkola) dan Karo, umumnya tak dapat diterima oleh keturunan asli wilayah itu. Demikian juga di Angkola, yang terdapat banyak pengungsi muslim yang berasal dari wilayah sekitar Danau Toba dan Samosir, akibat pelaksanaan dari pembuatan afdeeling Bataklanden oleh pemerintah Hindia Belanda, yang melarang penduduk muslim bermukim di wilayah tersebut. bisa jadi nenek moyang mu yang kenak usir dari toba itu... gara-gara misonaris dan penjajah

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Terimakasih abang Indra Rajagukguk.

      Delete
    4. Abang Anonymous,
      Dalam artikel ini saya tidak membahas tentang agama apa pun. Istilah 'Batak' yang saya maksud pun mengikuti istilah para antropolog, yaitu kumpulan suku-suku yang hidup di sekitar pegunungan Bukit Barisan bagian utara yang bukan Melayu. Jadi saya tidak menyinggung suatu agama apapun, ini tentang budaya dan sejarah bang. Salam.

      Delete
  3. Hari gini bicara suku, kelaut aja kamu Bung.
    Gini aja, coba sensus penduduk, data nama masing2, mana yang banyak nama pakai marga atau tidak ?

    Orang batak makan orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus ke laut...
      Temanya kan silsilah dan sejarah kami yg bersuku dan bermarga.
      Dan kami bisa memahami.
      Kami tidak sombong.. Tapi kami bangga karna jati diri kami.

      Delete
    2. Abang Anonymous,
      Terimakasih sudah menyempatkan membaca artikel penelitian saya ini. Tidak ada yang salah dengan membicarakan sejarah suku bangsa di Indonesia kan bang. Memakai atau tidak memakai marga di belakang nama merupakan hak asasi setiap orang, tidak ada yang salah juga dengan hal itu. Jika bukan kita yang memelihara budaya di Indonesia ini, siapa lagi? Dan yang perlu saya koreksi lagi, orang Batak zaman dulu tidak semua makan orang, itu hanya generalisasi buat menakuti bangsa Eropa penjajah. Apalagi zaman sekarang, mana ada orang Batak normal yang makan orang? Hahaha... Salam.

      Delete
  4. hahahahahahaha

    ReplyDelete
  5. blok kau ni terlalu tandensius... terlalu memaksa silahkan kamu sensus masyarakat seluruh labuhan batu yang iklas disebut batak juga masyarakat karo,mandailing dan simalungun yang berpendidikan karena apa ? kata Batak bukan dari Batak, tapi dikonstruksi para musafir Barat dan dikukuhkan misionaris Jerman . Kata Batak diambil para musafir dari penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abang Anonymous,
      Penelitian saya ini merupakan kelanjutan penelitian-penelitian sebelumnya. Artikel ini kan berbicara tentang sejarah dan ada bukti-buki sejarah nya juga sampai sekarang. Kalau memang zaman sekarang banyak penduduk Labuhanbatu yang tidak ikhlas disebut Batak, itu hak mereka. Kemungkinan leluhur mereka memang bukan berasal dari Batak. Namun sejarah kan tidak bisa dihilangkan. Kalau mengenai istilah Batak ada banyak versi bang. Saya sendiri memilih definisi yang benar dari kata 'Batak' sebagai kumpulan suku-suku yang hidup di sekitar pegunungan Bukit Barisan Utara, yang bukan Melayu. Saya selalu berfikiran positif, apalagi dalam memandang Batak. Terimakasih Abang.

      Delete
  6. AKU BARU TAU MENGENAI SEJARAH SUKU ASLI DI LABUHAN BATU SELATAN ,,,,,,,,,,,,,SAYA MARGA HUTAGALUNG DAN ISTRI SAYA BORU TAMBA .........................................................DENGAN KATA LAIN KAMI SUKU ASLI DONG YAH

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut penelitian dan bukti-bukti sejarah, ya benar demikian bang. Terimakasih.

      Delete
  7. Aku bermarga siregar, aku bangga punya marga, aku bangga dipanggil batak, sekalipun banyak para kaum terpelajar sejarawan yg menjelaskan arti kata dari batak itu kanibal atau manusia makan manusia, tidak beradab, liar dan segala macam saya pernah mendengar history batak seperti ini.
    Intinya biarpun aku bermarga, biarpun disebut batak tetap aja bagiku batak itu adalah suatu suku yg pantas ku banggakan tanpa memperdulikan arti maupun awal mula sejarahnya, bagiku sejarah batak itu merupakan pengetahuan yg pantas aku berikan nilai plus dan diberikan apresiasi yg positif. Karena dengan banyak mengetahui sejarah batak baik kulturnya, budayanya sosial dan perilakunya itu sudah cukup menunjukkan jalan bagiku untuk mengenal nenek moyangku biarpun tidak secara langsung. Dan yg aku pahami saat ini secara ilmiah batak itu merupakan salah satu suku yg ada di indonesia, suku yg memiliki khas, kultur, budaya dan karakter sosial yg berbeda dengan suku lain yg ada negeriki kita dan memiliki nilai positif di mata orang lain di luar pulau sumatera yg identik dengan kekompakannya yg solid, solidaritas yg tinggi, memiliki mental yg kuat walaupun agak sedikit keras itu sudah merupakan cukup bagiku untuk bangga dalam menyandang julukan batak dan itu juga merupakan salah satu dari kekayaan indonesia.
    Intinya yg bermarga itu adalah batak, yg batak pasti bermarga tanpa harus membedakan agamanya, tua atau muda asal usul marganya, tanpa adanya perbedaan baik itu mandailing, toba, karo dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  8. Kalau yang anda sebut benar ? kenapa Sultan dari Kesultanan Kota Pinang bergelar Tengku yang merupakan gelar aristorat dari Melayu ? Kota Pinang dahulunya merupakan bekas dari Kerajaan Panai yang berpusat di Gunung Tua. akan tetapi ditaklukan oleh Kerajaan Aru yang merupakan kerajaan Melayu yang sudah memeluk Islam. selanjutnya Kerajaan Melayu ini melanjutkan ekspansinya ke Kerajaan Siak yang memperkuat pengaruhnya di Selat Melaka. akan tetapi Kerajaan ini ditaklukan oleh Kerajaan Aceh dan Raja Kerajaan Aru melarikan diri, mendirikan kerajaan baru Aru 2 namun berhasil ditaklukan lagi oleh Aceh. keturunannya berhasil melarikan diri lagi dan mendirikan kerajaan baru yang menjadi cikal bakal dari Kesultanan Langkat. Hilangnya Melayu di daerah Kota Pinang tidaklain akibat dari Peristiwa Revolusi Sosial di Sumatera Timur, akhirnya karena masyarakat takut dibunuh mereka memakai marga dan yang terbunuh adalah mayoritas etnis melayu. Kalau anda menyebut Mandailing itu Batak, anda salah besar. masyarakat mandailing telah menggugat di pengadilan di Medan pada zaman Hindia-Belanda untuk memisahkan Mandailing dari Batak. Hal tersebut juga sesuai dengan sejarah Mandailing di Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama yang menyebutkan Mandailing lebih dahulu mendiami wilayah sumatera utara dari pada batak. Batak itu tidak muncul setelah Thomas Stanford Raffles membuat Keresidenan baru guna menyebarkan Kristen di daerah Tapanuli yang berpusat di Bakkara dan memiliki kota pelabuhan dunia yang bernama Barus. Terbunuhnya Raja Sisisngamanganraja menjadikan awal untuk menyebarkan ajaran kristus ditanah barus yang kemudian dikenal dengan "Batak" yang kepanjangan dari Barus Tanah Kristen. coba baca di wikipedia. Mandailing masuk ke dalam Batak adalah etnis Angkola yang kemudian hilang dalam segi etnisnya. karena yang mereka yang tidak masuk kristen disebut batak dan mereka masih mempertahankan agamanya masuk kedalam etnis mandailing. Terimakasih

    ReplyDelete
  9. Etnis itu kan identitas kultural, bukan identitas genetis yang bisa diturunkan. Kalau begitu berarti beberapa suku seperti Betawi, Ambon, dll seharusnya tidak ada karena etnis-etnis itu merupakan blasteran dari berbagai suku. Fyi, beberapa orang Melayu di Asahan dan Labuhanbatu bahkan menyandang 'marga' yang sebenarnya bukanlah marga, contohnya beberapa orang Melayu Batubara menyandang 'marga' Batubara, padahal mereka bukanlah orang Mandailing. Penambahan marga di antara orang Melayu disebabkan oleh peristiwa Revsos 1946 yang menargetkan komunitas Melayu. Sejak saat itu budaya Melayu di Asahan dan Labuhanbatu meredup, peninggalan kesultanan Melayu terbengkalai.

    ReplyDelete
  10. Mohon di kaji Ulang mengenai kebenaran sejarah ini, kalau saya lihat beberapa blog yang memuat sejarah kotapinang diawali kekuasaan dengan dua marga yaitu Hasibuan dan Tamba.

    Perlu dikaji ulang kemabali :
    1. Marga Dasopang
    Kalau dilihat dari peninggalan sejarah di daerah Labusel sekarang yang berbatasan dengan Kec. Dolok Kab. Paluta ada kerjaan Dasopang (Luat Silangge)

    hal ini masih masuk akal

    2. Marga Tamba
    Kalau marga tamba, masih adakah peninggalannya? setahu saya tidak ada, setidaknya ada keturunan bermarga tamba di labusel, seandainya dari berdirinya kerajaan kotapinang sampai sekarang sudah berapa generasi itu keturunan marga Tamba. dan setahu saya tidak ada situ peninggalan marga tersebut di Labusel. namun kalau MARGA TAMBAK ada di hutagodang (Luat Hutagodang) Kec. Sei. Kanan, bukannya marga TAMBA. marga ini masih banyak dan tumbuh berkembang di labusel hingga sekarang. setahu saya generasi TAMBAK sudah sampai 32 Generasi dibandingkan dengan marga lain marga ini sudah tergolong tua, dan masih ada situs peninggalan sejarah disana dilihat dari kuburan tua dan peninggalan kerajaannya. hal ini saya ketahui karena saya adalah keturunan marga TAMBAK dari garis keturuan IBU.

    KESIMPULAN :

    1. Mestinya sejarah jangan dibuat asal-asalan. (fakta)
    2. Mohon dilakukan penelitian secara mendalam

    ReplyDelete