Featured Post

Thursday, 27 December 2012

Batak Gayo

THE LAND OF GAYO

By: Wendy Hutahaean


Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh. Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara. Suku Gayo mayoritas beragama Islam. Suku Gayo menggunakan bahasa sehari-hari yang disebut bahasa Gayo. Suku Gayo berbeda dengan suku Aceh. Secara fisik, bahasa dan budaya suku Gayo lebih mirip dengan suku Alas, Singkil, Kluet, Batak Karo dan Batak Pakpak.

Sekitar abad 11 Masehi di tanoh Gayo terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Linge (Lingga) yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. (dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda). Raja Lingga I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah) dan Meurah Lingga(Malamsyah).

Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk. Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Masyarakat Gayo hidup dalam komunitas kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari:

- Reje
- Petue
- Imem
- Rayat

Saat ini beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok klen (belah). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).

Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen). Pada masa sekarang banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri.

Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu,sebuku(pepongoten), guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa.

Masyarakat Gayo juga memiliki berbagai jenis makanan khas suku Gayo yaitu :

- Masam Jaeng
- Gutel
- Lepat
- Pulut Bekuah
- Cecah
- Pengat

Bahasa Gayo adalah bahasa yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat suku Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Bahasa Gayo ini mempunyai keterkaitan dengan bahasa suku Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa Gayo digunakan dan terkonsentrasi di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan kecamatan Serba Jadi di kabupaten Aceh Timur. Ketiga daerah ini merupakan wilayah inti suku Gayo. Bahasa ini termasuk kelompok bahasa yang disebut "Northwest Sumatra-Barrier Islands" dari bahasa Austronesia.

Pengaruh dari luar yaitu bahasa di luar bahasa Gayo turut mempengaruhi variasi dialek tersebut. Bahasa Gayo yang ada di Lokop, sedikit berbeda dengan bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, Gayo Lut, Linge dan Gayo Lues. Hal tersebut disebabkan karena pengaruh bahasa Aceh yang lebih dominan di Aceh Timur. Begitu juga halnya dengan Gayo Kalul, di Aceh Tamiang, sedikit banyak terdapat pengaruh Melayu karena lebih dekat ke Sumatera Utara. Kemudian, Gayo Lues lebih dipengaruhi oleh bahasa Alas dan bahasa Karo karena interaksi yang lebih banyak dengan kedua suku tersebut lebih-lebih komunitas Gayo yang ada di kabupaten Aceh Tenggara.

Dialek pada suku Gayo, menurut M.J. Melalatoa, dialek Gayo Lut terdiri dari sub-dialek Gayo Lut dan Deret; sedangkan Bukit dan Cik merupakan sub-subdialek. Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari sub-dialek Gayo Lues dan Serbejadi. Sub-dialek Serbejadi sendiri meliputi sub-sub dialek Serbejadi dan Lukup (1981:53). Sementara Baihaqi Ak., dkk menyebut jumlah dialek bahasa Gayo sesuai dengan persebaran suku Gayo tadi (Gayo Lut, Deret, Gayo Lues, Lokop/Serbejadi dan Kalul). Namun demikian, dialek Gayo Lues, Gayo Lut, Gayo Lukup/Serbejadi dan Gayo Deret dapat dikatakan sama atau amat berdekatan. Di Gayo Lut sendiri terdapat dua dialek yang disana dinamakan dialek Bukit dan Cik (1981:1).

Dalam bahasa Gayo,  (memanggil seseorang) dengan panggilan yang berbeda, untuk menunjukan tata krama, sopan santun dan rasa hormat. Pemakaian ko dan kam, yang keduanya berarti kamu (anda) Panggilan ko biasa digunakan dari orang tua dan/atau lebih tua kepada yang lebih muda. Kata kam sendiri lebih sopan dibandingkan dengan ko. Bahasa Gayo Lut dinilai lebih sopan dan halus dibandingkan dengan bahasa Gayo lainnya.

A. Wilayah Gayo Deret

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.




B. Wilayah Gayo Lut

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.

C. Wilayah Gayo Lues

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.

D. Wilayah Gayo Serbajadi

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.

E. Wilayah Gayo Kaloy

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.

F. Wilayah Gayo Bebesan

1. Kec.
2. Kec.
3. Kec.
4. Kec.
5. Kec.
6. Kec.

4 comments:

  1. suku aceh gayo pun sudah jadi batak pula sekarang.... kikikiki
    bataknisasi ni ye..... wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih bang Anonymous telah membaca artikel saya ini. Maaf bang, sejak kapan orang Gayo adalah suku Aceh? Suku Gayo itu adalah pribumi Sumatera sejaka beratus tahun lalu, sedangkan Suku Aceh itu adalah pendatang campuran dari Arab China Eropa dan Hindia (ACEH) yang datang untuk berdagang di Sumatera, jadi jelas berbeda dong bang. Kalau definisi Batak menurut para antropolog adalah kumpulan suku-suku pribumi yang hidup di Bukit Barisan Utara yang bukan Melayu. Jadi kalau mengikuti definisi para antropolog (ahli budaya bahasa) tersebut, ya suku Gayo adalah Batak. Selain itu, ada keturunan Batak di Bebesen Gayo yang biasa disebut Batak 21 atau 27. Salam.

      Delete
  2. Disini dikatakan Gayo adalah Batak, sebagian besar urang Gayo akan membantahnya, hanya sebagian orang gayo yang berasal dari batak, umumnya mereka berdomisi di Bebesan . . . . lazim mereka disebut batak 21 atau 27. Hubungan Gayo dengan Karo dari dahulu memiliki kronik seperti cerita Sebayak Lingga dan Raja Linge (mereka ini mempunyai pertalian darah antara sesama Raja/Sultan di Aceh. . . . . . Brayan Munthe opini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih bang Anonymous telah membaca artikel saya ini. Maaf bang, kalau definisi Batak menurut para antropolog adalah kumpulan suku-suku pribumi yang hidup di Bukit Barisan Utara yang bukan Melayu. Jadi kalau mengikuti definisi para antropolog (ahli budaya bahasa) tersebut, ya suku Gayo adalah Batak. Selain itu, ada keturunan Batak di Bebesen Gayo yang biasa disebut Batak 21 atau 27. Berarti ada Gayo yang Batak kan? Salam.

      Delete