Featured Post

Thursday, 3 January 2013

BATAK PARDEMBANAN Kabupaten Asahan

BATAK PARDEMBANAN
Kabupaten Asahan
by: Wendy Hutahaean


Batak Pardembanan people or sometimes called Batak Asahan is a native Batak ethnics that live in Kabupaten Asahan of North Sumatera Province, Indonesia. They live hundred years before the invasion of Sultan Aceh, Sultan Mahkota Alam Alauddinriayatsyah (Syah Johan), along the river of Asahan. The descent of Sultan Aceh built Asahan Kingdom that is based on Islamic Melayu culture and converted all people of Batak Pardembanan became Melayu Asahan. Evenethough all people in Kabupaten Asahan nowadays claim themselves as Melayu Asahan people, there are some remaining Batak civilization in the area.

Traditional Clothes of Batak Pardembanan

Penduduk asli Asahan merupakan suku Batak Pardembanan yang menempati daerah sepanjang Sungai Asahan namun tidak sampai ke muaranya di pantai Asahan. Masyarakat Batak Pardembanan merupakan keturunan Batak Toba yang bermigrasi di sepanjang aliran sungai Asahan untuk mencari lahan pertanian baru akibat semakin sempitnya lahan di sekitar Danau Toba.

Saat ini Kabupaten Asahan terdiri dari beberapa kecamatan, yaitu:

  1. Kec. Aek Kuasan, ibukota Aek Loba Pekan
  2. Kec. Aek Ledong, ibukota Aek Ledong
  3. Kec. Aek Songsongan, ibukota Ake Songsongan
  4. Kec. Air Batu, ibukota Air Batu
  5. Kec. Air Joman, ibukota Binjai Serbangan
  6. Kec. Bandar Pasir Mandoge, ibukota Bandar Pasir Mandoge
  7. Kec. Bandar Pulau, ibukota Bandar Pulau Pekan
  8. Kec. Buntu Pane, ibukota Sei Silau
  9. Kec. Kota Kisaran Barat, ibukota Kisaran Barat
  10. Kec. Kota Kisaran Timur, ibukota Kisaran Timur
  11. Kec. Meranti, ibukota Meranti
  12. Kec. Pulo Rakyat, ibukota Pulau Rakyat Pekan
  13. Kec. Pulo Bandring, ibukota Suka Damai
  14. Kec. Rahuning, ibukota Rahuning
  15. Kec. Rawang Panca Arga, ibukota Rawang Pasar IV
  16. Kec. Sei Dadap, ibukota Perkebunan Sei Dadap I/II
  17. Kec. Sei Kepayang, ibukota Sei Kepayang Tengah
  18. Kec. Sei Kepayang Barat, ibukota Sei Tulang Pandau
  19. Kec. Sei Kepayang Timur, ibukota Sungai Pasir
  20. Kec. Setia Janji, ibukota Sei Silau Barat
  21. Kec. Silau Laut, ibukota Silo Lama
  22. Kec. Simpang Empat, ibukota Simpang Empat
  23. Kec. Tanjung Balai, ibukota Teluk Nibung
  24. Kec. Teluk Dalam, ibukota Teluk Dalam
  25. Kec. Tinggi Raja, ibukota Piasa Ulu
Kabupaten Asahan


A.   The Land

The land of Batak Pardembanan people covered some districts (kecamatan) in Kabupaten Asahan, which are:

1.      Kec. Aek Kuasan (part of Simargolang)
2.      Kec. Aek Ledong (part of Simargolang)
3.      Kec. Aek Songsongan (from Bandar Pulau/ part of Nahombang)
4.      Kec. Air Batu (part of Pane)
5.      Kec. Air Joman (part of Pane)
6.      Kec. Bandar Pasir Mandoge (part of Nahombang)
7.      Kec. Bandar Pulau (part of Nahombang)
8.      Kec. Buntu Pane (part of Pane)
9.      Kec. Kota Kisaran Barat (part of Pane)
10.   Kec. Kota Kisaran Timur (part of Pane)
11.   Kec. Meranti (part of Pane)
12.   Kec. Pulo Rakyat (part of Simargolang)
13.   Kec. Polu Bandring (from Meranti/ part of Pane)
14.   Kec. Rahuning (part of Nahombang)
15.   Kec. Rawang Panca Arga (from Meranti/ part of Pane)
16.   Kec. Sei Dadap (from Air Batu/ part of Pane)
17.   Kec. Setia Janji  (part of Pane)
18.   Kec. Silau Laut (from Air Joman/ part of Pane)
19.   Kec. Tinggi Raja (part of Pane)

The Regions of Batak Pardembanan
 
In some districts of Kabupaten Asahan that is classified as the land of Melayu Asahan, some people of Batak Pardembanan also live in a small proportion. Those districts are:

1.    Kec. Sei Kepayang
2.    Kec. Sei Kepayang Barat (from Sei Kepayang)
3.    Kec. Sei Kepayang Timur (from Sei Kepayang)
4.    Kec. Simpang Empat
5.    Kec. Tanjung Balai
6.    Kec. Teluk Dalam (from Simpang Empat)


B.   Marga

Batak Pardembanan people have "marga" that shows the identity of their original ancestor or family. This familiy name is derived from  father lineage (patrilineal) that will be continued to his male descent continiously. Female descent will follow the family name of her husband after mariage. The example of "marga" in Batak Toba that live (marbona pasogit) in Kabupaten Asahan are:


1.         Marga Simargolang (Simargolang Kingdom)
2.         Marga Nahombang (Nahombang Kingdom)
3.         Marga Sitorus Pane (Buntu Pane Kingdom)

Traditional Houses of Batak Pardembanan

Asahan and Labuhan Batu areas actually are the land of Batak people. There are three  Batak Kingdoms in Asahan, before Sultan Aceh takeover the area and built Asahan Kingdom, which are Simargolang Kingdom centered in Pulau Raja, Nahombang Kingdom centered in Bandar Pulau and Buntu Pane Kingdom centered in Buntu Pane. After Sultan Aceh (Syah Johan) surprisingly visit the area in order to catch Puteri Hijau, he married a daughter of Batak Kotapinang King and pointed his son (Sultan Abdul Jalil) to become the first king of Asahan Sulatnete. This Asahan Sultanete converted forcibly those three Batak Kingdom to become Melayu and Islam. The kings and most people of Asahan then practice the culture of Melayu and left the culture of Batak Pardembanan.

1.   Kerajaan Batak Simargolang

Daerah Asahan dan Daerah Labuhan Batu sebenarnya adalah sebagai daerah hilang bagi suku bangsa Batak Toba Tua serupa  dengan daerah-daerah Langkat. Deli dan Serdang, karena pola kebudayaan adat Dalihan Natolu sampai sebelum pengakuan kedaulatan sudah hilang lenyap disana, akibat dari salah mengerti atau akibat penerangan-penerangan yang keliru pada permulaan perkembangan agama Islam yang dibawa oleh penganjur-penganjur agama itu dari negeri lain. Karena dahulu apakala seorang sukubangsa Batak telah memeluk agama Islam dianggap telah menjadi “Malai” atau “Melayu” Pengertian yang keliru ini baru mulai berangsur diperbaiki setelah meletus revolusi social di Sumatera timur pada Tahun 1946.


Salah satu marga tertua dan terkenal di Asahan ialah marga “Simargolang” berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari. Tarombo marga Simargolang karena sudah sejak lama seluruhnya meninggalkan pusat negeri Toba, tidak begitu jelas lagi dalam buku-buku tarombo marga-marga sukubangsa Batak Toba tua. Menurut hikayat lama adapun Ompu Sahang Mataniari alias Ompu Sahang Matanibulan, adalah paman dari Si Nagaisori yang tercatat dalam buku tarombo sebagai putera dari Sipongki Nangolngolan (Tuanku Rao), yakni masuk ke dalam tarombo marga Rajagukguk (salah satu cabang dari marga Aritonang) Akan tetapi berdasarkan penelitian sejarah akhir-akhir ini sebenarnya adalah masuk marga sinambela cucu dari Tuan Singa Mangaraja ke VIII.

Kerajaan Margolang dahulu kala berpusat di Pulau Raja dengan wilayah kekuasaan Asahan - Labuhan Batu, Raja terakhir yang mejadi raja adalah Raja Marlau. Pada saat itu Indonesia telah dijajah Belanda. Kepada Raja Marlau Belanda menawarkan untuk membangun Kelapa Sawit dan Pabrik di Tanah kekuasaannya. Hal ini ditolak oleh Raja dengan alasan : Kalau tanah di jadikan Kebun Kelapa Sawit oleh Belanda maka rakyatnya nanti akan menjadi Budak Belanda, hal ini tidak dikehendaki oleh Raja.

Pada saat itu lalulintas komunikasi keluar kerajaan dilakukan melalui pelabuhan di Tanjung Balai. Sebagai petugas penghubung   kerajaan menetapkan seorang yang dapat dipercaya untuk itu. Pada suatu ketika Penghubung tadi menghadap Raja dan memberitahukan bahwa pada saat ini banyak kesibukan yang memerlukan legalisasi kerajaan, sementara transportasi antara Pulau Raja dan Tanjung Balai cukup jauh ukuran saat itu. Untuk memudahkan administrasi beliau meminta agar Raja memberikan kepercayaan kepadanya untuk membawa Cap Kerajaan, sehingga dia tidak perlu pulang pergi ke Pulau Raja bila hanya menyangkut administrasi.   Dengan alasan kemudahan administrasi maka Raja memberikan Cap tersebut kepada Penghubung   tadi. Ternyata kepercayaan itu dimanfaatkan oleh Belanda untuk melegalisasi izin membangun kebun di Pulau Raja. Maka penghubung tadi di manfaatkan Belanda untuk menggunakan Cap Kerajaan dan melakukan perjanjian dengan Belanda atas nama Raja untuk membangun kebun Kelapa Sawit.

Maka dengan berbekal surat tersebut Belanda membangun kebun Kelapa Sawit. Raja tidak dapat melarang karena Belanda telah memiliki surat resmi dari kerajaan yang lengkap dengan Cap Kerajaan. Alkisah Raja tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengatur kerajaannya.

Silsilah Keturunan Kerajaan Batak Simargolang:
  • Si Raja Batak
  • Guru Tatea Bulan
  • Saribu Raja I
  • Raja Borbor
  • T. Balasahunu
  • R. Hatorusan
  • O.T. Raja Doli Datu Taladibabana
  • Sabung/Sahang   Mataniari
  • Simargolang
  • R. Margolang II (Bermakam di Huta Raja)
  • R. Margolang III (Bermakam di Marjanji Aceh, Kec. Bandar Pulau)
  • R. Pulu Raja IV (Bermakam di Pancuran Raja)
  • R. Pulu Raja V (Bermakam di Kampung Raja)
  • R. Pulu Raja VI (Bermakam di Pulu Raja)
  • R. Pulu Raja VII (bermakam di Sei Berita, Pulu Raja)
  • R. Marsiha
  • R. Janggut  (Bermakam di Pulau Sarune, lalu di pindahkan oleh R. Nahar ke pangkal Titi Gantung Pulau Raja, Pemakaman Keluarga Nahar Margolang)
  • R. Dohon (Bermakam di Pemakaman Keluarga Nahar Margolang, Pangkal Titi Gantung Pulau Raja)
  • R. Pangaruhat : (Bermakam di Kedai Kawat, Pulau Raja)

Kesimpulan:

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Simargolang merupakan Kerajaan Batak yang termasuk Suku Batak Pardembanan dan masih memiliki ikatan darah dengan Batak Toba. Saat ini keturunannya memakai marga Margolang, namun banyak yang menghilangkan marganya akibat malu. Pemukiman asli Suku Batak Pradembanan di Kerajaan Simargolang ini terdapat di Kecamatan Pulau Rakyat, Aek Kuasan dan Aek Songsongan dalam Kabupaten Asahan.

2.   Kerajaan Batak Nahombang

Tim Pendataan Situs dan Kawasan Cagar Budaya, pada Kegiatan Pelestarian Peninggalan Purbakala Asahan, menyerahkan hasil pendataan dalam bentuk buku setebal 260 halaman kepada Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang, MAP. Buku diserahkan Tim pendataan dipimpin seorang aktifis dan sejarawan Kabupaten Asahan, Zasnis Sulungs, disaksikan Wakil Bupati H Surya BSc dan sejumlah SKPD di Pondopo Rumah Dinas. Pihaknya menemukan situs sejarah dari Raja Simargolang I dan II di Dusun Dolok Maraja, Desa Lobu Rappa, Kecamatan Aek Songsongan dan Raja Simargolang pada dinasti berikutnya di Kampung Pea atau Kampung Sawah, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan dan di Dusun Pancuran Raja, Des Rahuning Kecamatan Rahuning, di Kampung Pertandanan, Dusun Titi Putih, Desa Gunung Melayu Kecamatan Rahuning, serta dinasti ke V di Kampung Pertandaan, Dusun Titi Putih, Desa Gunung Melayu.

Begitu pula ditemukan patung-patung Raja Tuan Nahombang di Kampung Parhutaan Gana-Gana, Desa Gonting Malaha Kecamatan Bandar Pulau. Ditambah lagi Gua Silalahi yang juga di Bandar Pulau.

Kesimpulan:

Jadi dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Nahombang merupakan Kerajaan Batak yang termasuk Suku Batak Pardembanan dan masih memiliki ikatan darah dengan Batak Toba. Saat ini keturunannya memakai marga Nahombang, namun banyak yang menghilangkan marga akibat malu. Pemukiman asli suku Batak Pardembanan di Kerajaan Nahombang ini terdapat di Kecamatan Bandar Pulau, Aek Songsongan, Rahuning, dan Bandar Pasir Mandoge saat ini.

3.   Kerajaan Buntu Pane

Istana kerajaan Pane ini terletak di Dusun V Desa Simpang Buntu Pane, Kec. Buntu Pane. Keberadaan istana ini satu paket dengan Batu Pelanggiran yang terletak di Padang Makkire perkebunan Ambalutu Buntu Pane. Menurut R. Salim Pane, yang saat ini menempati istana tersebut dan merupakan anak dari Raja Pane yang ke XII, sehingga dalam silsilah merupakan raja yang ke XIII mengatakan bahwa Istana Raja Pane yang pertama dibangun di daerah Tratak, namun tidak diketahui pada pemerintahan siapa di daerah tersebut. Kemudian dibangun di daerah Padang Makkire pada masa Pemerintahan Raja Pane yang ke V yaitu Raja Nabaruton, dan selanjutnya di bangun di daerah Dusun V Desa Simpang Buntu Pane pada Tahun 1939 oleh Raja Pane yang ke XII yaitu Sitorus Pane yang lebih dikenal dengan Raja Idup Sitorus Pane.

Berdasarkan penuturan R. Salim Pane yang diperkuat oleh Chairul Pane, abang kandung R. Salim Pane, yang saat ini tinggal di Jalan Bakti Kisaran, mengatakan bahwa dalam pemerintahannya Kerajaan Pane diperintah sebanyak 12 raja, namun raja-raja yang mereka ingat antara lain:

  • Buttu Martabun, merupakan Raja Pane yang pertama.
  • Raja Nabaruton, merupakan Raja Pane yang kelima.
  • Sah Maraja, merupakan Raja Pane yang kesembilan.
  • Marihot Jawa, merupakan Raja Pane yang kesepuluh.
  • Sitorus pane, merupakan Raja Pane yang kedua belas, dan bergelar Raja Idup Sitorus Pane.

Dikatakan “Raja Idup” karena dari lima bersaudara anak dari Raja Pane yang kesebelas, hanya satu saja yang hidup sedangkan yang lainnya meninggal dunia sehingga ia bergelar Raja Idup Sitorus Pane. Pada masa pejajahan, tepatnya pada Agresi Militer ke dua Istana Kerajaan Pane ini pernah dikuasai oleh Belanda, maka seluruh keluarga mengungsi ke Pulau Raja dan pada tahun 1948 kembali lagi ke istana, namun semua harta dan barang-barang peninggalan istana musnah, jadi yang tinggal hanya istana yang ada sampai saat ini, Raja Pane yang kedua belas ini meninggal pada tahun 1987.

Sementara itu Batu Pelanggiran adalah merupakan patung dari Raja Pane yang ke lima yaitu Raja Nabaruton. Dikatakan pelanggiran karena patung ini terletak di daerah bukit yang berada di pinggir sungai Silo (sungai Kisaran), dimana di pinggir sungai itu terdapat sebuah batu yang menjorok ke tengah sungai dan selalu dipergunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat berpangir ketika akan menyambut puasa Ramadhan, sehingga patung Raja Nabaruton itu dikatakan Batu Pelanggiran.

Sebagai tambahan di bawah ini merupakan kutipan laporan perjalanan John Anderson  Utusan Gubernur Penang Ketika mengunjungi Asahan Pada tahun 1823 dalam bukunya 

“Mission to the Eastcoast of Sumatera”:

Kami berlayar lagi subuh hari, arus mulai deras dan sungai makin sempit, dan kita selalu kena cabang-cabang pohon. Tanahnya sangat baik untuk tanaman lada. Lebar sungai mulai menyempit sehingga perahu kami menggeser tebing di kiri kanan sungai. Ketika seekor gajah dibunuh, maka Raja mendapat sebuah gading. Sore harinya kami melewati sebuah Kampong Batak kecil yang dinamakan Durian, karena banyak durian disitu. Di sungai ini banyak cabangnya dan kami sampai di kampong Kisaran. Dekat kampong ini kami dengar gemuruhnya suara gajah. Sultan Muda terkejut dan meminta kita segera berangkat. Ketika bulan terang, kami bermalam di kampong Pasir Putih.

Kepala kampong ini adalah ipar Sultan bernama Raja Laut. Disini banyak kuda kecil yang cantik, lembu, kerbau, kambing dan yang ternak lainnya, dan diantara pohon-pohon yang besar ada sekawanan gajah, dimana ia minta kami membantunya menyerang binatang itu, tapi kami tidak paham mengenai hal ini dan lebih baik tetap berada di tempat. Saya membeli dari Raja Batak disini, pedang yang sangat elok yang dibuat sendiri disebut Kalapan, gagangnya terbuat dari gading gajah. Kami meninggalkan Pasir Putih dan tiba di Kampung Pematang Air, kampong yang kecil, disebut karena beberapa abad yang lalu orang Jawa (Majapahit?) membuat layar disini. Ketika kami mendekati Tanjung Alam, tanah mulai meninggi. Tengah hari kami berhenti di kampong Sejurai. Ada 50 orang yang berperawakan garang menemui kami ketika kami mendarat. Kami pergi ke rumah mereka yang disambut mereka dengan mesra. Wanita bertenun kain disini. Orang Batak sangat takut pada Orang Melayu diseberang sungai ini, karena selalu merampas anak-anak mereka dan menjualnya sebagai hamba.

Kami melewati pondok-pondok orang Batak diatas bukit. Kami berpapasan dengan beberapa perahu penuh dengan garam. Penduduk dalam perahu itu membawa serta anak isterinya. Utusan Sultan Tiba menyatakan bahwa Raja tidak bisa dating karena masih berperang dengan orang Batak. Kami melewati 2 buah batu yang ganjil pada masing-masing sisi sungai yang tingginya 200 meter. Kemudian kami melewati 2 buah batu besar yang disebut Batu Dikikir, yang seakan-akan mau menutupi sungai itu, dan kami seakan-akan mau memasuki terowongan. Saya mendapat tahu bahwa batu ini sememangnya dikikir oleh para Portugis beberapa abad yang lalu, ketika bangsa itu menguasai Melaka dan mempunyai perkampungan diatas sungai Asahan. Laut masa itu sampai di Sirantau. Kami sampai di sebuah kampung kecil Bandar Pasir Mandogei setinggi 50 kaki dari atas sungai. Itu merupakan kumpulan berbagai pondok yang kumuh. Raja Bunto Panai, menyambut kami dengan upacara. Ia berusia setengah abad, berkulit cerah, dan penghisap candu yang kuat. Dihadiahkannya pada sebuah Tirjing, pisau bergagang perak, digunakan untuk memotong daging manusia, Raja sedang menyerang kubu-kubu orang Batak dengan laskar 500 orang sekira perjalanan 1 hari. Sultan Muda segera pergi menemuinya. Di perbukitan dibelakang tempat ini banyak sekali benteng orang batak dibawah perintah Raja Bunto Panai. Di sekitar Pasir Mandogei ada 50  kampung dari benteng orang Batak, yang berpenduduk 300-1000 orang. Empat jam dari sini ada kampung Munto Meragi. Pinang Meratus, Sendi, Kasingino, Katuburka, Padang Nangali, Sungai Pulia, kesemuanya dilewati Sultan Muda untuk mendatangi Raja.

Perahu yang megikuti kami tiba. Pagi hari banyak orang Batak Toba turun sampai ke pinggir sungai. Mereka dating dari danau yang besar. Jualan mereka terdiri dari kain yang dibuat sendiri, gagang pedang dan di tempat mereka harga 100 gantang padi $.1 : garam 3-4 gantang per dollar. Warna kulit mereka agak kehitaman seperti orang Burma. Semuanya baru buat mereka termasuk cermin kecil. Saya hadiahkan beberapa buah dan mereka sangat gembira melihat muka mereka. Orang Batak itu menyebut orang Eropah “Melayu dengan gigi putih”. Salah seorang kepala suku membawa 4 wanita dan 2 orang anak kepada Raja Bunto Panei. Saya diserahkan beberapa orang hamba, tetapi saya tak mau menerimanya. Raja sangat sibuk untuk mengepung 8 buah benteng, yang berada dibawah kekuasaan Raja Tinding dari Terdolo. Di beberapa buah benteng saya lihat banyak tengkorak yang dipunyainya. Kawan-kawan dari yang sudah terbunuh jika sudah ada perdamaian, membeli kembali tengkorak kerabatnya seharga 30-40 dollar. Ibunda dari raja Asahan member orang yang membawa tengkorak kepada saya $.10.- Pakaian wanita Bata dililit kain hingga kelutut, tetapi buah dada mereka terbuka. Di kampung-kampung yang lain, gadis kecil berumur 10-12 tahun sama sekali telanjang bulat. Rumah Raja yang masih muda itu penuh dengan wanita beberapa diantaranya cantik putih. Jika seorang Raja Batak menolak memberikan padanya salah seorang puteri, ia berperang denganya dan merampasnya dengan paksa. Raja Bunto Panai membantunya dengan tenaga manusia dan membagi rampasan dan rakyatnya membuat pesta terhadap orang yang ditawan. Sebagian puteri dari kepala suku Perdambanan ini bekulit cerah, sedangkan orang Toba berkulit kehitaman. Pada jam 2, Yang Dipertuan Sultan tiba dengan rombongannya dan memberikan tembakan kehormatan dengan senapan. Saya berada dengan Raja beberapa jam  dan ia minta agar saya meneruskan perjalanan bersamanya, tetapi saya haru kembali ke Hilir. Ia menyediakan bekalan saya, ubi, ayam, kambing, babi, dan lain-lain. Para kepala suku itu senang dengan barang-barang Eropah terutama kain merah.

Kesimpulan:

Jadi dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Buntu Pane merupakan Kerajaan Batak yang termasuk Suku Batak Pardembanan dan masih memiliki ikatan darah dengan Batak Toba. Saat ini keturunannya memakai marga Pane, namun banyak yang menghilangkan marga akibat malu. Pemukiman asli suku Batak Pardembanan di Kerajaan Buntu Pane ini terdapat di Kecamatan Buntu Pane, Meranti, Air Joman, Tinggi Raja, Setia Janji, Air Batu, Kisaran Barat dan Kisaran Timur di Kabupaten Asahan.

4.   Kedatangan Sultan Iskandar Muda membuka Kesultanan Asahan


Pada tahun 1539 Sultan Aceh Sultan Mahkota Alam Alauddinriayatsyah (Syah Johan) ingin meminang Puteri Hijau di tanah Deli-Tua. Meskipun usahanya itu tidak berhasil karena Puteri Hijau lolos ke laut, maka bala tentera Aceh itu harus menyusuri pantai arah ke Selatan. Sesampainya di sebuah muara sungai besar, sungai Asahan, maka dimasukilah sungai itu mudik dan ternyata tidak ada ditemui penduduk. Sesampainya di kampung Tulawan, baru ditemui penduduk Batak yang tidak tahu bahasa Melayu. Untunglah disitu ada seorang hulubalang bernama Bayak Lengga Haro-haro yang tahu berbahasa Melayu, yang mengatakan bahwa Raja disitu adalah Kerajaan Simargolang Suku Batak Pardembanan. Sultan Aceh lalu menyuruh agar penduduk pindah ke pertemuan sungai Silau dengan sungai Asahan, dan kemudian lahirlah nama Tanjung Balai.

Terdengarlah kabar bahwa Raja Batak Pinang Awan (Kotapinang) bernama Batara Sinomba (Marhom Mangkat Di Jambu) dari perkawinannya dengan permaisuri memperoleh dua orang putera dan seorang puteri bernama SITI ONGGU (Puteri Berinai). Kemudian ia kawin lagi dengan seorang hambanya dan memperoleh seorang putera. Wanita hamba ini dapat mempengaruhi Batara Sinomba agar puteranyalah yang akan menggantikan kelaksebagai raja sehingga kedua orang putera raja dari Ibu Gahara itu lalu diusir. Akhirnya Ibu Gahara minta tolong kepada Sultan Aceh yang balatenteranya lewat di situ. Sultan Aceh lalu mengirim pasukan dipimpin Raja Muda Pidie. Pasukan Aceh lalu membunuh Batara  Sinomba dekat sebuah pohon Jambu, dan mengangkat kedua orang putera raja dari ibu gahara itu sebagai raja disana, tetapi sebagai balas jasa mereka mengambil Siti Onggu sebagai isteri Sultan Aceh.

Setelah sekian lama maka rindulah mereka akan adik mereka Siti Onggu itu. Lalu mereka pergi ke Tanjung Balai dan meminta tolong kepada Bayak Lengga Haro-Haro agar mau menemani mereka menghadap Sultan Aceh. Sampai di Aceh didapatinyalah bahwa adiknya SIti Onggu sedang hamil besar. Permohonan mereka kepada Sultan Aceh agar dapat membawa pulang adik emreka diperkenankan dengan syarat, bahwa bila lahir anak yang dikandung SIti Onggu seorang laki-laki, maka ia haru dirajakan di Asahan dan jatuhlah talaknya kepada Siti Onggu yang bisa dinikahi oleh Bayak Lengga Haro-Haro nanti. Putera yang lahir dari Siti Onggu itu dijadikan Raja Asahan pertama bergelar Sultan Abdul Jalil (Marhom Tangkahan Sitarak) dengan membawa benda pusaka dari Aceh sebuah Bawar dan sebuah Jorong (tepak sirih) dan sebuah lela (Si Juang nan Hilang), dan Bendahara Sakmar Diraja (asal Pasai) sebagai Bendahara dan Pemangku.

Kemudian Bayak Lengga setelah Islam kawin kedua kalinya dengan Siti Onggu dan dia diberi gelar Raja Bolon. Raja Bolon kawin pula dengan puteri dari Raja Si Margolang Pardembanan. Keturunannya dari perkawinan dengan Siti Onggu yaitu Abdul Karim digelar bangsawan Bahu Kanan atau Haru Dalam, sedangkan turunannya dari perkawinan dengan puteri Si Margolang yaitu ABD. SAMAT dan ABD. KAHAR digelar BAHU KIRI atau HARU LUAR. Mereka umumnya dipanggil dengan gelar sebutan”DATUK MUDA”. Raja Simargolang berhasil merebut pemerintahan Asahan dan menunjuk Abd. Samat sebagai Raja Kota Bayu dan Abd. Kahar sebagai Raja Tg. Pati (di atas Sirantau). Sultan Abd. Jalil terpaksa mengungsi dekat Silau Meraja yang berada dibawah Kuasa Tengku Ambang (asal Pagarruyung). Dia lalu minta bantuan ke Aceh. Banyak pasukan Aceh yang mati kena racun. Itulah dia Tanjong Tambun Tulang. Raja Simargolang akhirnya tunduk juga pada Sultan Abd. Jalil di tempat yang disebut “Padang Marjanji Aceh”. Abd. Jalil lalu membuat Istana pada pertemuan Sei Asahan dengan Sei Silau. Itulah kota Tk. Balai sekarang. Dari Panai, Baginda mendapat alat kebesaran tombak “Panca Roba”. Baginda kawin dengan puteri Raja Batak ompu Liang.

Silsilah Kesultanan Asahan

Pada tahun 1641 sebuah galyun dari Jepara membawa garam minta surat pas kepada VOC di Melaka untuk pergi ke Asahan (Dagregister VOC di Melaka, 14-6-1641). Setelah Sultan Abdul Jalin berturut-turut menjadi Raja Asahan dengan memakai gelar “ Yang Dipertuan” (YAMTUAN). Sultan Asahan yang terakhir adalah Sultan Saibun Abdul Jalil Rahmat Syah (dihapuskan ketika Revolusi Sosial 3 Maret 1946).

Kesimpulan:

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kesultanan Asahan itu didirikan oleh Sultan Aceh dari hasil perkawinannya dengan seorang wanita Suku Batak Pardembanan. Sebelum kedatangannya, nama Asahan itu sudah ada yaitu tempat dimana Suku Batak Pardembanan mengasah pisau. Sementara Sultan Aceh telah kembali ke Aceh, tinggallah seorang saja keturunannya di Asahan sedangkan seluruh penduduknya masih Suku Batak Pardembanan.

Walaupun banyak di antara penduduk Suku Batak Pardembanan banyak menjadi Islam, tidak dapat dikatakan bahwa mereka berubah menjadi Suku Melayu. Karena Sultan Asahan I adalah putra Sultan Aceh, bukan Sultan Melayu. Selain itu, kalau dikatakan masyarakatnya adalah Melayu, masyarakat mana yang dimaksud?

Dari seluruh informasi yang telah dipaparkan, maka penulis berpendapat bahwa “MASYARAKAT ASAHAN ADALAH ETNIS BATAK”, bukan etnis Melayu. Sebagian kecil kalangan kerajaan memang berdarah Aceh yaitu dari keturunan Sultan Asahan pertama anak dari Siti Ungu dan Sultan Syah Johan. Namun, itupun merupakan penduduk pendatang dan jumlahnya sangat kecil.


Pada kenyataannya, pesisir pantai Asahan sebelum kedatangan Sultan Aceh Syah Johan adalah tidak berpenduduk alias kosong. Jadi jika ada penduduk yang menempati wilayah Asahan setelah itu merupakan suku pendatang termasuk Minangkabau, Aceh, Melayu Riau dan China. Ada tiga marga Batak Pardembanan di Asahan sebagai suku asli, yaitu Margolang, Nahombang dan Pane (Sitorus).


Segala upaya untuk menyatakan diri sebagai suku Melayu akibat menjadi Islam adalah aneh dan durhaka, terkecuali memang orang tua kandungnya berasal dari Melayu pendatang. Kesimpulannya, Asahan adalah tempat bermukimnya suku Batak Pardembanan.

C.   Language

The of Batak Pardembanan people nowadays are Bahasa Melayu Asahan. It happens because after Sultan Abdul Jalil, the son of Sultan Aceh (Sultan Syah Johan) and Batak Kotapinang Princess (Siti Ungu), become the first Sultan of Asahan, he fight against all Batak Kings and Batak people in Asahan to change their Batak culture to Melayu Asahan culture. People then learned to speaks Bahasa Melayu Asahan and practiced Islam, eventhough they still have secretly some Batak civilization. However, the dialect of Bahasa Melayu Asahan between the converted Batak Pardembanan people and the generation of Melayu Asahan Sultans is different. The dialect of Batak Pardembanan people is more rugged.

Traditional Dance of Batak Pardembanan

After Social Revolution 1946, Batak Paredembanan people come up to discover their Batak culture and start using the marga after their name. Nevertheless, most Batak culture has lost and replaced by Melayu Asahan culture. They have marga but their Batak Pardembanan culture has disappeared mostly.

D.   Religion

After Sultan Abdul Jalil become the first Sulatan of Asahan, all Batak Kings and people in Asahan convert to Islam. The Asahan Sultan fight against the people who did not want to follow Islam and Melayu Asahan culture. However, Batak Pardembanan people still preserve some Batak cultures such as Upah-upah, Ulos, and Wedding tradition. Nowadays, they try to implement Dalihan Na Tolu as the main principle of Batak along with Islam.

Batak Pardembanan's Upah-upah and Mangulosi

Basically, Batak Pardembanan people live as farmer and fisherman, especially for people who lives along Asahan river. Nowadays, they also work in different types job such as merchandise, office jobs, in private and public sector. There are a lot of Batak Pardembanan people who become successful person in foreign country such as having an important position in government and having a successful business.

Refference:

video
Tarian Tortor Batak Pardembanan Asahan

video
Gotong Royong Pesta Batak Pardembanan Asahan

video
Objek Wisata di Wilayah Batak Padembanan

video
Batak Pardembanan Song - Badukun

video
 Batak Pardembanan Song - Nasib

video
Batak Pardembanan Song - Poning

17 comments:

  1. bagaimana dengan raja tuan nagori musa manurung???? raja napitu??? yg juga mempunyai cerita sebagai oprang yg pertama kristen di asahan,,yg menjadi cikal bakal, berdirinya methodist berbahasa batak di indonesia??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Joy Manurung...
      Terima kasih telah membaca artikel saya di blog ini tentang Batak Pardembanan sebagai penduduk asli tanah Asahan...
      Mengenai Tuan Nagori Musa Manurung mungkin akan dibahas pada posting berikutnya.
      Sedangkan di artikel ini hanya menjelaskan tentang penduduk Batak Pardembanan yang terdiri dari marga Nahombang, Simargolang dan Sitorus Pane yang merupakan penduduk asli tanah Asahan sebelum invasi Sultan Asahan yang merupakan orang Aceh.
      Tuan Nagori Musa Manurung memang merupakan penduduk Asahan yang datang kemudian (dari Silindung), jadi bukan merupakan penduduk pertama di tanah Asahan. Marga Manurung datang dari Silindung setelah ketiga marga (Nahombang, Simargolang dan Sitorus Pane) menempati Asahan. Salah satu keturunan Manurung tersebut bernama Tuan Nagori Musa Manurung yang menjadi orang Kristen pertama di Asahan. Beliau juga mendirikan Gereja Methodist Indonesia Makedonia di Bosar Sipinggan.
      Jadi, silahkan lihat artikel di bawah ini tentang Tuan Nagori Musa Manurung:
      http://gmiku.wordpress.com/2011/04/06/sejarah-gmi-makedonia-bosar-sipinggan/

      Delete
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Silau_Jawa,_Bandar_Pasir_Mandoge,_Asahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Anonymous. Terimakasih sudah membaca artikel penelitian saya ini. Link yang abang berikan benar-benar menambah pengetahuan saya tentang Pardembanan ini ya bang. Terimakasih bang.

      Delete
  3. http://www.scribd.com/doc/21163758/7/Bab-8-TAWANAN

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Anonymous. Terimakasih sudah membaca artikel penelitian saya ini

      Delete
  4. SILAHKAN BACA 2 LYNK YG SAYA PASTE DIATAS UNTUK MENGUATKAN ISI BLOG ANDA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Anonymous. Terimakasih sudah membaca artikel penelitian saya ini

      Delete
  5. Jadi marggolang itu masuk kedalam marga apa??
    soalnya saya terkadang bingung karena kurang mengerti tarombo batak???
    ada yg biLang margolang itu masuk ke marga damanik. . .
    apa benar. . .??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Kak Wilda telah membaca artikel saya.
      Dari siraja Borbor kemudian terbentuklah cabang-cabang marga Sariburaja: Pasaribu (Habeahan, Bondar, Gorat, Saruksuk), Lubis, Tanjung, Pulungan, Sipahutar, Batubara, Harahap, Matondang, Tarihoran, Parapat, Hutasuhut, Simargolang, Daulai, Rambe, Rangkuti, Sitangkar, Tinendung, Padang Batanghari, dsb. Marga-marga tersebutlah yang disebut dengan Borbor marsada. Jadi tidak ada nama Damanik dalam Tarombo tersebut.
      Kesimpulannya, Simargolang adalah marga yang sudah berdiri sendiri.
      Salam.

      Delete
  6. terimakasih pak hutahean, sy jg pernah dengar dari orang tua sy bahwa masyarakat di tanjung balai dahulunya bermarga, namun karena takut pada penguasa (melayu atau Aceh ?.) atau di usir dari tanah asahan sehingga mereka rela menghilangkan marga mereka, tapi sekarang mereka telah banyak yang kembali memakai marga mereka meskipun sudah terlanjur tidak mencatatnya di ijazah dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih bang Hasibuan telah membaca artikel saya. Salam.

      Delete
    2. Saya pikir ada baiknya mengulas sejarah dari berbagai sumber dan perspektif.tidak adil bila kita hanya melihat dari batak sentris.saya pikir data itu beluk cukup akurat.sebab ada banyak sekali skrip2 yang menerangkan apa itu melayu dan apa itu batak.sejak kapan pula mulai ada istilah "batak".istilah batak baru datang belakangan di masa kedatangan misionaris.sebab di pustaha tua bangso batak sendiri tidak tertulis kata "batak".sementara melayu sendiri tidak terbatas kepada suku,melainkan lebih kepada komunitas besar masyarakat yang beradat resam identik.melayu tidak bisa dikenali dari genekologi.ras melayu di berbagai wilayah itu masing2 berbeda satu sama lain.di tubuh melayu sendiri terjadi kerancuan..siapa sebenarnya melayu itu? Raja langkat,raja deli,raja asahan...bertaut dengan aceh.raja melayu Qadriyah-borneo pula fam Al Qadri.sedangkan kturunan bangsawan Siak-Riau bnyk ber-fam Assegaf.di langkat bhkn bnyk kita temui org bermarga barus menyandang gelar Tengku dan Wan.apatah lagi di medan sunggal,melayu umumnya bermarga karo.lain pula melayu Jambi,Palembang atau Bengkulu.dan lain pula melayu pattani,melayu phikipina Selatan.melayu ialah keterjadian peradaban yg kompleks di sebuah rentang masa,yg dikenal dengan peradaban melayu.berikut akan saya sertakan beberapa sumber terkait kebenaran asahan sebagai wilayah etnis melayu.tabik

      Delete
    3. Saya pikir ada baiknya mengulas sejarah dari berbagai sumber dan perspektif.tidak adil bila kita hanya melihat dari batak sentris.saya pikir data itu beluk cukup akurat.sebab ada banyak sekali skrip2 yang menerangkan apa itu melayu dan apa itu batak.sejak kapan pula mulai ada istilah "batak".istilah batak baru datang belakangan di masa kedatangan misionaris.sebab di pustaha tua bangso batak sendiri tidak tertulis kata "batak".sementara melayu sendiri tidak terbatas kepada suku,melainkan lebih kepada komunitas besar masyarakat yang beradat resam identik.melayu tidak bisa dikenali dari genekologi.ras melayu di berbagai wilayah itu masing2 berbeda satu sama lain.di tubuh melayu sendiri terjadi kerancuan..siapa sebenarnya melayu itu? Raja langkat,raja deli,raja asahan...bertaut dengan aceh.raja melayu Qadriyah-borneo pula fam Al Qadri.sedangkan kturunan bangsawan Siak-Riau bnyk ber-fam Assegaf.di langkat bhkn bnyk kita temui org bermarga barus menyandang gelar Tengku dan Wan.apatah lagi di medan sunggal,melayu umumnya bermarga karo.lain pula melayu Jambi,Palembang atau Bengkulu.dan lain pula melayu pattani,melayu phikipina Selatan.melayu ialah keterjadian peradaban yg kompleks di sebuah rentang masa,yg dikenal dengan peradaban melayu.berikut akan saya sertakan beberapa sumber terkait kebenaran asahan sebagai wilayah etnis melayu.tabik

      Delete
  7. bagaimana hubungan Pardembanan degan Simalungun ...bang...

    ReplyDelete
  8. Masih banyak yg kacau, penuturan kisah.Terutama dgn kedatangan marga manurung. Manurung itu, bkn suku atau marga yg ada di silindung. Akan tetapi, sama halnya dengan Sitorus, Surait, dan Butar2.'Nenek moyang mereka, bertempat di Sibisa dekat Parapat dan Lumban julu, Gunung simanuk nanuk masih termasuk wilayah mereka (tempat tuan sorba dijae/datu pejel sering bersemedi), sebenarnya gunung tersebut telah menjadi wilayah asahan, berdekatan dengan bandar pulau dan mandoge. Migrasi Marga Sitorus, Manurung, dan butar2 adalah rute lumban julu, atau simanuk manuk, melewati parhutaan maranti, sopo raru, pudi sopo, aek seihut ihuton, kemudian bercabang, menyeberang sei piasa dari siboli boli menuju hutabagasan dan mandoge, sedang yg lain melalui adian palia, adian tes, hutarao dan parsaguan menuju bandar pulau.

    Marga Manurung masuk ke Mandoge dan membentuk kerajaan disana dan di silau jawa, kemudian sitorus sebagian menetap di hutarao (umumnya sitorus dori), dan sebagian lagi mengikuti rute manurung, masuk ke tinggi raja mendirikan kerajaan (sitorus dori),masuk ke buntu pane dan mendirikan kerajaan di urung pane (sitorus pane). Sementara butar2 masuk dari hutarao dan mendirikan kerajaan di Aek Nagali dan buntu pagar. Di Pargambiran, berkedudukan Marga Marpaung, dan masuk ke asahan mekalui rute pintu pohan. Sehingga Pargambiran dan Tangga adalah daerah kekuasaan Marpaung, dan kemudian Tangga diberikan kepada Panjaitan keturunan Pu Bonanitahi dari sitorang jae.

    ReplyDelete