Featured Post

Tuesday, 1 January 2013

Mandailing adalah Etnis Batak


Mandailing adalah Etnis Batak
MANDAILING ADALAH ETNIS BATAK

WILAYAH dalam pandangan antropologi dilihat sebagai suatu kesatuan daerah yang didiami oleh sebentuk komunitas atau suku, sehingga dalam suatu wilayah bisa terdapat hanya satu komunitas atau suku maupun satu wilayah yang didiami oleh beberapa komunitas atau suku.

Mandailing adalah Etnis Batak

Konsep wilayah dalam pandangan antropologi pertama kali dikemukakan oleh antropolog Amerika , M.J. Herskovits[2] Kemudian konsep wilayah kebudayaan dikenal dengan istilah culture area, Antropolog G.P. Murdock menyusun suatu sistem terhadap daerah-daerah kebudayaan di Afrika serta mengklasifikasikan daerah-daerah kebudayaan tersebut melalui unsur perbedaan bahasa dan perbedaan sistem kekerabatan. Melalui konsep culture area yang hendak didapatkan adalah untuk menarik satu garis merah yang menjadi persamaan bagi penduduk suku-suku bangsa yang mendiami wilayah tersebut.

Tulisan ini ditujukan untuk turut memberikan jawaban atas satu pertanyaan yang “menggelitik”, yaitu : Mandailing Tidak Sama Dengan Batak, Ditujukan kepada sebagian orang yang beranggapan bahwa Mandailing tidak sama dengan Batak, Sebelumnya definisi tentang suku Batak[3] adalah terdiri dari enam sub-group, yaitu Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Keenam sub-group tersebut terdistribusi di sekeliling Danau Toba, kecuali Mandailing dan Angkola yang hidup relatif jauh dari daerah Danau Toba; dekat ke perbatasan Sumatera Barat, Di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang mengasosiasikan kata “Batak” dengan ‘orang Batak Toba’. Sebaliknya grup yang lain lebih memilih menggunakan nama sub-grupnya seperti Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing dan Angkola.

A. Alasan Perbedaan Agama

ANGGGAPAN bahwa Mandailing bukan Batak didasarkan keadaan dilapangan bahwa pada umumnya etnis Mandailing memiliki agama yang berbeda dengan etnis Batak, Dalam hal ini agama Islam dan Kristen–baik Protestan maupun Katolik. Apabila anggapan tersebut yang menjadi dasar anggapan maka telah terjadi pengkerdilan terhadap proses berfikir secara kritis . Karena sebagaimana diketahui, agama muncul setelah kebudayaan muncul dari suatu masyarakat, dan diadopsi dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Dalam kebudayaan Mandailing maupun Batak secara keseluruhan, kedua agama tersebut muncul dan dianut setelah mengalami proses yang lama, Konsep agama pada dahulunya didasarkan pada dinamisme dan animisme.Perkembangan masyarakat Sipirok di Tapanuli Selatan diperkirakan baru muncul lebih kurang sembilan abad setelah pengaruh Islam mulai berkembang di Barus atau pantai barat Tapanuli Tengah[4]. Secara geografis Tapanuli Selatan merupakan basis daerah Mandailing dan hal ini dipertegas dengan pernyataan bahwa sejak sekitar abad ke-16 pengaruh agama Islam belum masuk kedaerah Tapanuli Selatan[5]

Hal ini kemudian didukung dengan tulisan oleh Parlindungan[6] yang menyatakan bahwa penyerbuan laskar Paderi dari Sumatera Barat ke Sipirok terjadi sekitar tahun 1816. Sebelum laskar Paderi memasuki kawasan Sipirok, mereka lebih dulu menaklukkan seluruh daerah Mandailing, Angkola dan Padang Lawas.

Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan : daerah Mandailing Tapanuli Selatan telah ada sebelum pengaruh Islam, karena sampai sekarang tidak ditemukan bukti-bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan adanya perkembangan Islam yang meluas baik di Tapanuli Tengah maupun di Tapanuli Selatan sejak abad ke-7[7], Sedangkan agama Kristen masuk kedaerah Sumatera Utara dimulai dengan masuknya para misionaris yang ikut dengan rombongan penjajah Belanda.
Salah satunya adalah Nomensen. Dari apa yang telah dipaparkan, pupus sudah anggapan yang menyatakan bahwa Mandailing bukan Batak karena faktor agama.

B. Alasan Perbedaan Bahasa

HAL lain yang menganggap bahwa Mandailing bukan Batak didasarkan karena Mandaling memiliki perbedaan bahasa dengan bahasa Batak, Anggapan ini runtuh dengan jawaban bahwa bahasa atau linguistik pada awalnya sama namun karena dipengaruhi faktor lingkungan, kebiasaan dan hal lain maka terjadi pergeseran dari bahasa semula. Namun pergeseran ini tidak menimbulkan perbedaan yang berarti,

Sebagai bahan acuan adalah adanya perbandingan antara beberapa kosa kata bahasa Sipirok dan bahasa Sansekerta [8], Dalam perbandingan tersebut kata “huta” yang dalam bahasa Sansekerta “kota” yang memiliki arti sebagai kampong dan kosa kata ini juga digunakan dalam masyarakat Batak, Kosa kata lainnya adalah “debata” yang dalam bahasa Sansekerta “devta” memiliki arti dewata, dalam masyarakat Batak dalam hal ini Toba menyatakan Tuhan atau yang
memiliki Kuasa dengan kata “debata”, Tuhan atau “debata” digunakan dalam “Somba Debata” yang berarti sembah/sujud kepada Tuhan atau pencipta alam.

Faktor bahasa yang menjadi pembeda antara Mandailing dan Batak juga bukanlah faktor yang memiliki perbedaan signifikan antara Mandailing dan Batak. Perbedaan-perbedaan yang menjadi landasan anggapan bahwa Mandailing dan Batak hilang dengan sendirinya apabila dikaji secara mendalam, Usaha-usaha pembedaan yang mengarah pada pemisahan antara Mandailing dan Batak merupakan taktik strategi bangsa penjajah (Belanda) untuk memecah persatuan dan keutuhan Nusantara. Sampai saat ini masih ada orang, kelompok yang mempertahankan anggapan bahwa Mandailing bukan bagian dari Batak secara luas.

C. Klasifikasi Van Vollenhoven dan Koentjaraningrat

DALAM suatu klasifikasi yang dilakukan Van Vollenhoven[9] terhadap wilayah Indonesia yang mengklasifikasi berdasarkan dari aneka warna suku-bangsa di Wilayah Indonesia biasanya masih berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, Dan pengklasifikasian ini, membagi wilayah Indonesia kedalam 19 daerah, yaitu :
1.    Aceh
2.    Gayo-Alas dan Batak
a.    Nias dan Batu
3.    Minangkabau
a.    Mentawai
4.    Sumatera Selatan
a.    Enggano
5.    Melayu
6.    Bangka dan Biliton
7.    Kalimantan
8.    Sulaweswi Utara
a.    Sangir-Talaud
9.    Gorontalo
10. Sulawesi Selatan
11. Sulawesi Tengah
12. Ternate
13. Ambon Maluku
a.    Kepulauan Baratdaya
14. Irian
15. Timor
16. Bali dan Lombok
17. Jawa Tengah dan Timur
18. Surakarta dan Yogyakarta
19. Jawa Barat
Klasifikasi yang dibuat oleh Van Vollenhoven ini kemudian diadopsi oleh Koentjaraningrat walaupun karya Van Vollenhoven ini masih terdapat keragu-raguan pada daerah Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur dan Sumatera, Koentjaraningrat menyatakan, lokasi sesuatu suku-bangsa di Indonesia biasanya ada selisih antara berbagai pengarang bahkan untuk menyatakan batas-batas wilayah suku-bangsa Aceh ada enam orang pengarang yang memiliki perbedaan antara satu sama lain[10].

Koentjaraningrat yang merupakan bapak antropologi Indonesia dalam bukunya “Pengantar Antropologi 1, 1980) tidak menyinggung sama sekali tentang perbedaan antara Mandailing dan Batak. Kalaupun ada hanyalah perbedaan batas-batas wilayah suku-bangsa Aceh.

D. Batak itu satu, Mengapa ingin pisah

Anggapan bahwa Mandailing bukan Batak merupakan tindakan “kekonyolan pemikiran” yang kemungkinan menyebabkan destruct knowledge, menurut hemat penulis keinginan “anggota etnis Mandailing” untuk tidak menyamakan Mandailing dengan Batak– karena Mandailing bukan bagian Batak, merupakan strategi yang didasari rasa superior, primordialisme, dan emosi keagamaan
berlebih.

Sejatinya seorang antropolog dilarang memasukkan unsur-unsur superior, primordialisme dan emosi keagamaan berlebih dalam menyikapi satu masalah, Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka cakrawala pemikiran terhadap pandangan yang ada.

Mandailing masuk kedalam bagian Batak secara luas. Karena Batak secara luas merupakan representasi suku-suku Batak, yang memiliki akar budaya dan wilayah yang sama. Kerugian tidak timbul dari hanya sekedar peletakan Mandailing bagian dari Batak, Pemikiran umum telah terdoktrin stereotipe Batak “kasar”, “kurang beradab”. Namun, hal ini muncul dari pandangan orang-orang yang berada diluar lingkaran kebudayaan Batak secara luas.

Kata akhir tulisan ini untuk membuka diri terhadap proses perkembangan namun dengan memperhitungkan aspek perkembangan tersebut, marilah kita bersatu dalam Batak secara luas dan tidak mengkotak-kotakkan diri dalam pemikiran yang sempit.

E. Pengakuan bahwa Mandailing adalah Batak

Berikut merupakan kutipan pernyataan yang pernah dibuat oleh Raja-Raja di daerah Mandailing mengenai suku bangsa Batak:

BATAK MANINGGORING

Assalamoe alaikoem
Kami jang bertanda tangan dibawah ini:

Radja Mangatas
Soetan Soripada Panoesoenan
Mangaradja Panoesoenan
Soetan Koemala Boelan
Soetan Singa Soro Baringin
Mangardja Panobaoenan
Mangaradja Soetan Solengaon
Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi
Soetan Pandapotan
Mangaradja Solompoon
Mangaradja Moeda Panoesoenan
Mangaradja Iskandar Panoeroenan
Soetan Bintang Pandapotan
Patoean Koemala Boelan

Masing masing radja panoesoenan (kepala koeria) di:

Pakantan Lombang
Pakantan Doeali
Oleoe
Tamiang
Manambin
Kota Nopan
Panombangan
Maga
Pidoli Boekit
Kota Siantar
Panjaboengan Djoeloe
Panjaboengan Tonga
Goenoeng Baringin
Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea

Semoeanja dalam lingkungan onderafdeling Groot en Klein Mandailing, Oelo en Pakantan, afdeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia-lah bangsa “Batak”, sedangkan agamanja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar.

Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak). Demikianlah soepaja terang akan adanja.

Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet tanggal 18 Agustus 1922.


Kami jang menerangkan

(tanda tangan)



F. Daftar Bacaan

Koentjaraningrat (1980). Pengantar Antropologi 1. Jakarta. Aksara Baru
Koentjaraningrat (1990). Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta. UI-Press
Lubis Pangaduan. Z dan Zulkifli Lubis (1998). Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat
Sipirok. Medan. Badan Pengkajian Pembangunan Sipirok dan USU Press
Purba Mauly (2005). Pluralitas Musik Etnik : Batak-Toba, Mandailing, Melayu, Pakpak-Dairi, Angkola, Karo, Simalungun. Medan. Pusat Dokumentasi Dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nomensen
[1] Penulis adalah mahasiswa departemen Antropologi stambuk 2003 dan bagian dari etnis Mandailing secara luas
[2] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, 1980 : 299
[3] Mauly Purba, Pluralitas Musik Etnik ; Batak-Toba, Mandailing, Melayu, Pakpak-Dairi, Angkola, Karo, Simalungun, 2005 : 50-51
[4] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 30
[5] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31
[6] Dalam Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31
[7] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 31
[8] Z. Pangaduan Lubis dan Zulkifli Lubis, Sipirok Na Soli Bianglala Kebudayaan Masyarakat Sipirok, 1998 : 28
[9] Dalam Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi 1, 1980 : 315
[10] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, 1980 : 316- 318

No comments:

Post a Comment