Featured Post

Thursday, 11 April 2013

Batak Pesisir Langkat People (English Version)


BATAK PESISIR LANGKAT PEOPLE
by: Wendy Hutahaean


Malay Langkat or Maya-Maya (read-maye maye), is one of the Malays who are in North Sumatra. Langkat Malay settlement is in Langkat district. Spread the Malays Langkat began from the city of Medan, Binjai, Bohorok, Stabat, Tanjung Pura, Brandan Base, Base Milk and almost all districts Langkat. Langkat Malay, speaking in Malay Maya-Maya (maye-maye), a dialect of "e", similar to the dialect of the Malay Malaysia.

Traditional Clothes of Melayu Langkat


In the Land of Langkat once stood an old wing Hindu kingdom, the Kingdom of Aru, a Batak Karo kingdom in the past, which is thought to have stood since the 2nd century AD. After the expiration of the Kingdom of Aru, the emerging empire-kesultan in the Land Langkat, as the Sultanate Langkat, allegedly in furtherance of the Kingdom of Aru.

Traditional Dance of Melayu Langkat

Land Langkat according to the story was first inhabited by the Karo Batak tribe from Tanah Karo highlands, who migrated to the region. Along with the influx of ethnic Malays are thought to have originated from Riau mainland and mainland Malaysia to Langkat this region, bringing with them customs and culture, the area is filled Langkat ethnic Malays, now known as the Malay Langkat. Karo Batak tribes originally inhabited the region was finally partly converted to Islam, and joined absorb Malay culture and helped to Malay, better known as Karo ethnic Malays Langkat.

Trsditional House of Melayu Langkat

Langkat Malay society is almost entirely converted to Islam, which has been developed among the Malays Langkat since several centuries ago. Religion Islam is so strong growth in Malay society Langkat, visible from all forms of tradition and cultural mores Langkat Malay influenced elements of Islamic culture. But in everyday life there Langkat Malays who believe in the supernatural, ghosts and spirits haunting. The practice of witchcraft is still considered important, to treat the sick, and begged instructions.

The Malays have a traditional home Langkat typical Malay form. Built in a house on stilts, usually made of dark wood. The entrance is usually located on the side of the house, with a ladder, but now there are placed entrances and stairs in front of the house. Langkat Malay house has a roof with palm leaves that are common in the marsh area. Nipah leaf roof gives coolness beneath though the weather was very hot and hot.

Malay livelihood Langkat, currently has a variety of professions, but most of life as a farmer. They plant different types of crops, such as rice, cassava, maize, various types of vegetables and fruits. In coastal areas usually become fishermen. Beyond that their chosen profession as traders, fishermen, government sector and the private sector. On the other hand some of them working as laborers in plantations and others



Suku Melayu Langkat atau Maya-Maya (baca: maye-maye), adalah salah satu suku Melayu yang terdapat di Sumatra Utara. Pemukiman suku Melayu Langkat ini berada di wilayah kabupaten Langkat. Penyebaran suku Melayu Langkat ini mulai dari daerah kota Medan, Binjai, Bohorok, Stabat, Tanjung Pura, Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu dan hampir di seluruh wilayah kabupaten Langkat. Suku Melayu Langkat, berbicara dalam bahasa Melayu Maya-Maya (maye-maye), dengan dialek "e", mirip dengan dialek orang Melayu Malaysia.
Di Tanah Langkat pernah berdiri sebuah kerajaan tua yang beraliran Hindu, yaitu Kerajaan Aru, sebuah kerajaan Batak Karo pada masa lalu, yang diperkirakan telah berdiri sejak abad 2 Masehi. Setelah berakhirnya masa Kerajaan Aru, maka bermunculan kesultanan-kesultan di Tanah Langkat ini, seperti Kesultanan Langkat, yang diduga sebagai kelanjutan dari Kerajaan Aru.
Tanah Langkat menurut ceritanya pertama kali dihuni oleh masyarakat suku Batak Karo yang berasal dari dataran tinggi Tanah Karo, yang bermigrasi ke wilayah ini. Seiring dengan masuknya suku bangsa Melayu yang diperkirakan berasal dari daratan Riau dan daratan Malaysia ke wilayah Langkat ini, dengan membawa adat-istiadat dan budayanya, maka wilayah Langkat ini dipenuhi oleh suku bangsa Melayu, yang sekarang dikenal sebagai suku Melayu Langkat. Suku bangsa Batak Karo yang pada awalnya mendiami wilayah ini pun akhirnya sebagian memeluk agama Islam, dan ikut menyerap budaya Melayu dan ikut menjadi Melayu, yang lebih dikenal sebagai suku Karo Melayu Langkat. 
Masyarakat suku Melayu Langkat ini hampir seluruhnya memeluk agama Islam, yang telah berkembang di kalangan orang Melayu Langkat sejak beberapa abad yang lalu. Agama Islam begitu kuat tumbuh dalam masyarakat Melayu Langkat, terlihat dari segala bentuk tradisi adat-istiadat dan budaya suku Melayu Langkat banyak dipengaruhi unsur budaya Islam. Tapi dalam kehidupan sehari-hari orang Melayu Langkat masih ada yang mempercayai hal-hal gaib, hantu dan roh-roh gentayangan. Praktek perdukunan masih dianggap penting, untuk mengobati orang sakit, serta memohon petunjuk. 
Orang Melayu Langkat memiliki rumah tradisional dengan bentuk khas Melayu. Dibangun dengan bentuk rumah panggung, biasanya dibuat dari bahan kayu hitam. Pintu masuk biasanya berada di samping rumah, dengan sebuah tangga, tapi saat ini sudah ada yang menempatkan pintu masuk dan tangga di depan rumah. Rumah suku Melayu Langkat ini memiliki atap dengan daun nipah yang banyak terdapat di rawa-rawa daerah ini. Atap daun Nipah ini memberi kesejukan di bawahnya meskipun cuaca sedang sangat terik dan panas. 
Matapencarian suku Melayu Langkat, saat ini memiliki profesi beragam, tetapi sebagian besar hidup sebagai petani. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti padi, ubi, jagung, berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Di daerah pesisir biasanya menjadi nelayan. Di luar itu mereka memilih profesi sebagai pedagang, nelayan, sektor pemerintahan dan sektor swasta. Di sisi lain beberapa dari mereka menjadi buruh di perkebunan dan lain-lain.

video
Batak Pesisir Langkat Dance - Mak Inang Pulau Kampai

video
Batak Pesisir Langkat Song - Seri Langkat


Batak Pesisir Langkat Song - Seri Langkat

No comments:

Post a Comment