Featured Post

Thursday, 28 March 2013

Batak Rao People (English Version)

BATAK RAO PEOPLE

by: Wendy Hutahaean


Suku Batak Rao, adalah salah satu etnis Batak yang mendiami mulai dari sekitar perbatasan provinsi Sumatra Utara - Sumatra Barat sampai ke wilayah kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Suku Rao ini, telah lama bermukim di wilayah ini sejak abad ke 5 Masehi. Apabila dilihat dari fisik dan kemiripan bahasa, suku Rao ini sepertinya masih berkaitan erat dengan Batak Mandailing dan Batak Padang Lawas. Selain itu, menurut orang Mandailing, bahwa orang Rao ini sebenarnya masih keturunan dari Mandailing, karena orang Rao telah beratus-ratus tahun bermigrasi ke wilayah Sumatra Barat, sehingga terbentuklah suatu etnis bernama suku Rao. Tetapi, menurut penuturan beberapa masyarakat Rao, bahwa suku Rao adalah suku tersendiri, yaitu suku Rao, bukanlah Batak, bukan Mandailing, bukan Minangkabau dan juga bukan Melayu, walaupun mereka tidak menyangkal bahwa nenek moyang mereka mungkin berasal dari tanah Batak Mandailing.


Traditional Clothes of Batak Rao 

A. The Land

Suku Rao sendiri telah lama bertetangga dekat dengan suku Minangkabau, maka budaya mereka pun sepertinya menyerap beberapa adat istiadat dan budaya Minangkabau ke dalam budaya dan adat istiadat Rao sendiri. Wilayah Rao berada dalam lingkaran Bukit Barisan meliputi berbagai daerah seperti Huta Godang, Panti, Padang Gelugor, Langsat Kadap, Lubuk Layang, Kubu Sutan, Sungai Ronyah, Selayang dan Muara Sipongi (disebut dengan Rao versi lama) yang terletak di tengah pulau Sumatera. Di sebelah Utara, Rao bertetangga dengan suku Mandailing-Sumatera Utara, di sebelah Timur bertetangga dengan suku Melayu- Riau Daratan, di sebelah Selatan, bertetangga dengan suku Minangkabau, sedangkan di sebelah Barat, terbuka dengan Selat Mentawai yang secara geografi membentuk permukaan bumi di daratan pulau Sumatera.

Kabupaten Pasaman



Nowadays, the land of Batak Rao people in Kabupaten Pasaman covered some districts (kecamatan), which are:

1. Kec. Rao
2. Kec. Rao Utara
3. Kec. Rao Selatan
4. Kec. Mapat Tunggul
5. Kec. Mapat Tunggul Selatan
6. Kec. Duo Koto
7. Kec. Padang Gelugur
8. Kec. Panti
9. Kec. Lubuk Sikaping
10. Kec. Tigo Nagari
11. Kec. Simpang Alahan Mati
12.  Kec. Bonjol


Kabupaten Pasaman Barat

Nowadays, the land of Batak Rao people in Kabupaten Pasaman covered some districts (kecamatan), which are:

1. Kec. Gunung Tuleh
2. Kec. Kinalih
3. Kec. Lembah Melintang
4. Kec. Luhak Nan Duo
5. Kec. Pasaman
6. Kec. Ranah Balingka
7. Kec. Ranah Batahan
8. Kec. Sasak Ranah Pasisir
9. Kec. Sungai Aur
10. Kec. Sungai Beremas
11. Kec. Talamau
Traditional House of Batak Rao

B. Marga
 
Orang Rao saat ini masih tetap mengamalkan adat resam dan budaya asli Rao. Budaya Rao yang paling terkenal ialah bojojak, botatah atau adat pantang tanah. Anak-anak Rao tidak dibolehkan menyentuh tanah sebelum menjalankan upacara bojojak ini.

Suku Rao menggunakan bahasa Rao yang termasuk ke dalam Rumpun Bahasa Malayo-Polynesian. Bahasa dan budaya Rao berbeda dengan Tapanuli, Minangkabau dan Riau Daratan. Suku Rao adalah sebuah tamadun yang tua, ini dibuktikan dengan terdapatnya berbagai bukti arkeologis barang purbakala yang berumur ribuan tahun di Rao. Seperti candi Tanjung Medan di Petok Panti, Candi Pancahan, Arca Dwarapala Padang Nunang, Prasasti Lubuk Layang dan Candi Bukit Rao yang ditemukan oleh Amran Datuk Jorajo.

Cerita tentang budaya Rao justru banyak terdapat dalam catatan sejarah yang ditulis oleh orang Belanda. Di Rao terdapat sebuah benteng Amorogen sebagai saksi pertempuran sengit antara penjajah Belanda melawan pribumi yang dipimpin oleh Tuanku Rao. Rao di masa lalu merupakan sebuah kota yang besar, pusat perekonomian dengan terdapatnya tambang emas terbesar di Sumatera pada waktu itu. Letnan 1 Infanteri J.C. Boelhouwer, dalam tulisannya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Pemerintah Daerah Pasaman. Dalam buku tersebut diceritakan tentang penduduk suku Rao di Sumatera.

Semenjak kedatangan Belanda ke Rao yang berjaya mengalahkan pasukan Paderi beserta pemimpinnya seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai sampai sekarang Rao telah banyak dimasuki oleh pendatang dari Minangkabau dan Tapanuli. Masyarakat suku Rao sendiri ternyata banyak yang berada di  Medan, Malaysia, Palembang dan sebagainya. Sementara di tanah Rao sendiri telah banyak dimasuki oleh pendatang yang bukan suku Rao untuk mengisi kekosongan yang terdapat di Rao.

Sebagian besar masyarakat suku Rao ternyata telah banyak yang hijrah ke Malaysia pada sekitar 500 tahun yang lalu, terutama di Perak, Negeri Sembilan, Pahang, Selangor dan Kelantan. Nama-nama kampung merekapun di bawa dari nama kampung yang terdapat di Rao sendiri. Dalam kehidupan keseharian mereka, orang Rao ini masih mempertahankan bahasa, adat istiadat, budaya dan hubungan kekerabatan dengan kampung asal nenek moyang mereka di Rao.

Penyebab lain yang perpindahan besar-besaran orang Rao, oleh karena wilayah Rao ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1833. Selain itu disebabkan meletusnya perang saudara antara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan tentara pusat di Sumatera Barat pada 15 Februari 1958, dan Rao adalah kubu terakhir PRRI ketika itu. Pemberontakan partai komunis Indonesia pada tahun 1966 juga diperkirakan mempengaruhi penghijrahan.

Traditional Dance of Batak Rao


C. Language

Bahasa Rao, adalah suatu bahasa yang dituturkan oleh suku Rao, yang mendiami daerah Rao-Pasaman, di Sumatra Barat, Indonesia. Bahasa Rao ini merupakan bahasa yang berhubungan erat dengan bahasa Batak Mandailing-Padang Lawas dan bahasa Minangkabau serta dengan bahasa Melayu, karena dalam perbendaharaan bahasa Rao banyak terdapat banyak kemiripan dengan bahasa-bahasa tersebut. Sepertinya bahasa Rao ini merupakan asimilasi antara bahasa Batak Mandailing-Padang Lawas dengan bahasa Minang.

Tetapi menurut penuturan masyarakat Rao sendiri, bahwa bahasa Rao bukanlah bagian dari bahasa Batak Mandailing-Padang Lawas, Minang maupun Melayu. Melainkan menurut mereka, bahwa bahasa Rao justru lebih tua dari bahasa Minang dan bahasa Melayu, dan sudah berdiri sendiri sejak lama. Di Malaysia bahasa Rao disebut sebagai bahasa Rawa. Ada beberapa penulis yang mengartikan "Rao" sebagai "Rawa". Bahasa Rao ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Malayo-Polynesian.

Traditional House of Batak Rao

D. Religion

Majority Batak Rao people are Islam

2 comments: