Pemekaran Kabupaten Tapanuli TengahFeatured Post

Showing posts with label Batak Mandailing. Show all posts
Showing posts with label Batak Mandailing. Show all posts

Thursday, 27 December 2012

Ulu Mandailing



Suku Ulu (Orang Ulu) atau Orang Tanah Hulu, adalah suatu masyarakat adat yang berada di desa Sibinail dan desa Tamiang Mudo kecamatan Muara Sipongi di provinsi Sumatra Utara. Populasi suku Ulu ini diperkirakan sebesar 135 Kepala Keluarga.

Pakaian Suku Ulu
Masyarakat Suku Ulu
Pemukiman Suku Ulu

Diperkirakan suku Ulu ini telah ada sejak awal abad masehi sekitar abad 2, suku Ulu ini bermukim di hutan pedalaman di wilayah Tapanuli Selatan. Mereka hidup sebagai nomaden, menjelajah di hutan pedalaman, dan tidak menetap pada suatu tempat secara permanen. Dalam perjalanan nomaden mereka, akhirnya mereka menemukan suatu tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian persawahan dan perladangan. Tetapi lama kelamaan setelah mereka menetap dan membangun perkampungan di daerah baru tersebut, pemukiman mereka di perkampungan ini semakin terasa sempit, sementara mereka masih membutuhkan lahan untuk memperluas tanah garapan. Pada masa itu lahan di pemukiman mereka semakin terbatas seiring dengan pertambahaan penduduk. Wilayah pemukiman mereka dianggap tidak mencukupi lagi sumberdaya alamnya, baik persawahan maupun perladangan. Mereka memilih pergi untuk mencari tempat baru untuk dijadikan pemukiman dan lahan pertanian baru. Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat dan membuat sebuah perkampungan yang disebut sebagai desa Sibinail di Muara Sipongi.

Pada awalnya di daerah Sibinail ini sudah dihuni oleh 3 suku yang telah lebih dahulu bermukim di wilayah ini, yaitu suku Mondoilig, suku Pungkut dan suku Kamak Kepuh. Dari ketiga turunan suku ini mendiami desa Sibinail pada saat ini, setelah terjadi pembauran antara ketiga suku ini dengan suku Ulu. Desa Sibinail ini dalam perjalanan sejarahnya, awalnya terdiri dari tiga dusun yaitu dusun Sibinail, dusun Ranto Lolo dan dusun Tamiang Mudo. Setelah sekian lama, 3 dusun ini semakin berkembang, lalu digabungkan dan membentuk 2 desa, yaitu desa Sibinail dan desa Tamiang Mudo. 

Pada waktu Perang Paderi yang bergolak pada akhir abad ke-19, sebagian penduduk desa Sibinail dan desa Tamiang Mudo, pindah ke desa lain yang disebut desa Siladang, Di tempat ini mereka bertemu dengan suku Lubu yang telah terlebih dahulu berada di sana. Perpindahan mereka dikabarkan karena menghindar dari pasukan serdadu Paderi. Di tempat baru tersebut mereka berbaur dan terjadi perkawinan campur dengan suku Lubu yang menyebabkan terbentuknya bahasa dan adat-istiadat tersendiri yang disebut sebagai bahasa dan adat-istiadat Siladang yang berbeda dengan bahasa dan adat penduduk di Sibinail. Sedangkan sebagian lain yang bertahan di desa Sibinail dan desa Tamiang Mudo, tetap mempertahankan adat-istiadat asli mereka hingga saat ini, dan tetap memakai identitas diri sebagai suku Ulu atau Orang Ulu.

Bahasa Ulu sendiri berbeda dengan bahasa Batak Mandailing maupun bahasa-bahasa lain yang ada di wilayah Tapanuli Selatan. Apabila diperhatikan bahasa Ulu ini bernuansa Melayu, tetapi lebih tua dari bahasa Melayu nya sendiri, tetapi juga menyerap perbendaharaan kata dari bahasa Mandailing, walaupun terjadi perubahan pada pengucapan bunyi, yang menyesuaikan dengan dialek suku Ulu. Secara klasifikasi bahasa, bahasa Ulu diklasifikasikan ke dalam rumpun bahasa Malayic (Melayu Purba).

Masyarakat suku Ulu saat ini mengandalkan hidup pada bidang pertanian terutama pada persawahan dan perladangan. Selain itu mereka juga banyak menjadi buruh tani.

Lubu Mandailing


Suku Lubu


Suku Lubu, adalah suatu kelompok masyarakat kuno, yang telah menempati wilayah antara Sumatra Utara dengan Sumatra Barat, jauh berabad-abad sebelum kehadiran etnis-etnis batak yang kemudian bersama-sama hidup berdampingan di wilayah ini. Suku Lubu telah mendiami wilayah ini ribuan tahun sebelum hadirnya orang-orang Batak di wilayah ini. Secara ras, suku Lubu ini pada termasuk ke dalam ras Weddoid, memiliki kulit agak gelap, rambut keriting dan bertubuh kekar, yang berbeda dengan etnis batak yang memiliki ras mongoloid. Tetapi setelah ribuan tahun terjadi pembauran dengan suku batak setempat dan kemungkinan juga dengan suku melayu, maka saat ini mungkin hampir tidak dapat lah dibedakan antara suku Lubu dengan suku-suku batak dan suku melayu yang hidup di sekitar pemukiman suku Lubu ini. Walaupun mereka tetap mengakui diri mereka sebagai suku Lubu, tetapi budaya dan adat-istiadat mereka banyak menyerap budaya dan adat-istiadat suku Mandailing dan suku Padang Lawas. Diperkirakan suku Lubu ini masih berkerabat dengan suku Kubu, karena secara fisik tidak jauh berbeda.

Bahasa yang digunakan suku Lubu adalah bahasa Lubu. Bahasa Lubu ini banyak menyerap perbendaharaan kata bahasa Mandailing dan bahasa Padang Lawas, oleh karena itu bahasa Lubu ini kadang dianggap sebagai salah satu dialek dari bahasa Batak Mandailing. Walaupun bersumber dari bahasa yang berbeda, tetapi setelah mengalami proses selama berabad-abad, antara bahasa Lubu dan bahasa Mandailing, terjadi pembauran, sehingga bahasa Lubu yang sekarang hampir mendekati dan mirip dengan bahasa Mandailing dan bahasa Padang Lawas.

Suku Lubu ini kadang bisa juga disebut sebagai suku Siladang. Tetapi menurut orang Siladang mereka berbeda dengan orang Lubu. Menurut beberapa tulisan di internet, mengatakan bahwa Suku Lubu masih terdapat ikatan kekerabatan masa lalu dengan suku Siladang.

Budaya dan adat-istiadat suku Lubu, ini berada di antara budaya dan adat-istiadat suku Batak Mandailing, suku Batak Padang Lawas dan suku Melayu, yang juga hidup di sekitar wilayah pemukiman mereka. Tetapi mereka tetap mempertahankan tradisi mereka, walaupun secara tidak langsung segala tradisi budaya dan adat-istiadat mereka secara lambat-laun menyerap budaya dan adat-istiadat dari suku-suku lain yang bermukim di sekitar wilayah pemukiman mereka.

Suku Lubu bertahan hidup sebagian besar pada bidang pertanian. Bekerja pada perkebunan karet sebagai buruh, dan selain itu mereka juga melakukan praktek tebang-bakar di hutan untuk membuka lahan perladangan. Hutan juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Serta beberapa hewan ternak juga dipelihara untuk menambah penghasilan keluarga, seperti sapi, ayam, bebek dan lain-lain.

Batak Mandailing di Kab. Mandailing Natal

SUKU BATAK MANDAILING
DI KAB. MANDAILING NATAL
By: Wendy Hutahaean


Suku Batak Mandailing, adalah salah satu suku yang berada di beberapa kabupaten di provinsi Sumatra Utara, yaitu di kabupaten Mandailing Natal, kabupaten Padang Lawas, kabupaten Padang Lawas Utara dan juga terdapat di kabupaten Tapanuli Selatan. Suku Mandailing ini berada di antara dua kebudayaan yang besar, yaitu budaya Batak dan budaya Minangkabau.


Traditional Clothes of Batak Mandailing

Pada suatu sisi suku Mandailing adalah bagian dari suku Batak, sedangkan suku Minangkabau juga mengklaim bahwa suku Mandailing adalah berasal dari Minangkabau. Apabila dilihat dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing, bahwa suku Mandailing ini lebih berkerabat dengan suku Batak Toba dan Batak Angkola, dibanding dengan suku Minangkabau. Selain itu marga-marga yang ada pada suku Mandailing juga banyak yang sama dengan marga-marga pada suku Batak Toba dan Batak Angkola.

Traditional Dance of Batak Mandailing

Kalau diperhatikan antara suku Mandailing dengan suku Minangkabau, sangat berbeda dari struktur fisik, budaya, tradisi, adat-istiadat serta bahasa pada masyarakat suku Mandailing sangatlah berbeda. Hanya karena pada suku Minangkabau terdapat salah satu suku/marga yang bernama Mandaihiliang, oleh karena itu suku Minangkabau mengklaim bahwa Mandailing berasal dari salah satu marga/suku dari suku Minangkabau tersebut.

Traditional House of Batak Mandailing

Tetapi bagaimana menurut pendapat masyarakat Mandailing? Menurut mereka, bahwa mereka adalah suatu suku tersendiri, paling tidak saat ini. Mengenai asal usul, bisa dari mana saja, Bisa saja dahulu mereka memang bersaudara dengan suku Batak Toba maupun Batak Angkola, karena segala budaya, adat-istiadat dan bahasa memang lebih dekat ke Batak Toba dan Batak Angkola. Tetapi saat ini mereka agak enggan disebut "Batak", cukup dengan "Mandailing" saja. Karena istilah "batak" menurut anggapan orang banyak berarti "Batak Toba". "Oleh karena itu saat ini sebutlah kami sebagai 'Mandailing' saja", sebut mereka. 

Kabupaten Mandailing Natal

Sedangkan dengan Minangkabau, menurut mereka, pada masa dahulu, pada masa Perang Paderi, banyak dari orang-orang Mandailing yang hijrah ke daerah Minangkabau, dan hidup berbaur dengan adat istiadat Minangkabau, di sana mereka membuang marga aslinya, dan kelompok orang Mandailing di sana disebut sebagai orang Mandaihiliang, yang disesuaikan dengan lidah orang Minangkabau yang "susah" menyebut Mandailing, sebutan mereka pun menjadi Mandaihiliang. Akhirnya, jadilah orang-orang Mandailing yang hidup di tanah Minangkabau menjadi suatu suku di Minangkabau, yang disebut sebagai suku Mandaihiliang. Berarti, justru orang-orang Mandaihiliang di Minangkabau berasal dari Mandailing, bukan sebaliknya.

Ada versi lain yang menceritakan, bahwa dahulu di wilayah Mandailing ini ada sebuah kerajaan dari India bernama Kerajaan Holing atau Kalingga sekitar abad 12 Masehi. Istilah "Mandailing", dihubungkan-hubungkan dengan kata Mandala dan Holing. Kerajaan India ini telah berdiri sekian lama dan telah membentuk koloni yang berbaur dengan penduduk setempat, pemukiman dan pendudukan kerajaan ini diperkirakan terbentang dari Portibi hingga Pidoli. Wilayah pendudukan Kerajaan Holing ini disebut sebagai Tanah Mandala Holing, yang akhirnya menjadi Mandailing. Setelah sekian lama di tempat ini dan terjadi pembauran dengan penduduk setempat, terbentuklah suatu komunitas yang disebut suku Mandailing.

Suku Mandailing sebenarnya memiliki beberapa sub-suku, yang mana sub-suku tersebut saat ini pun telah melepaskan diri dari bagian "Mandailing", nya sendiri, dan menyatakan sebagai suku tersendiri.

Beberapa sub suku Mandailing tersebut adalah:
·         Padang Lawas/ Padang Bolak
·         Siladang
·         Pasisi
·         Orang Ulu
·         Rao
·         Rokan

Pada adat istiadat suku Mandailing semuanya tertulis dan diatur dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga). Aksara Tulak-Tulak, suatu aksara yang terpelihara dalam masyarakat Mandailing, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf Pallawa, Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Hal ini sama dengan suku-suku Batak lainnya yang juga memiliki aksara sendiri. Hal ini berbeda dengan suku Minangkabau yang tidak memiliki aksara. Aksara yang disebut pustaha ini banyak berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan tentang waktu yang baik dan buruk serta ramalan mimpi.

Suku Mandailing secara mayoritas memeluk agama Islam, yang dibawa oleh pasukan Paderi dari Minangkabau yang mengislamkan Tanah Batak di bagian Selatan. Wilayah Mandailing pada masa lalu diserang pasukan Paderi yang menginvasi wilayah Mandailing yang hidup sebagai petani. Akibat dari serangan pasukan Paderi Minangkabau ini, sebagian masyarakat Mandailing melarikan diri menyeberang ke wilayah Malaysia untuk menyelamatkan diri, dan yang bertahan harus tunduk di bawah kekuasaan pasukan Paderi yang demi mempertahankan hidup, mereka memeluk agama Islam. Hanya sebagian kecil yang bertahan di wilayah tersebut yang tetap mempertahankan agama asli mereka seperti pelbegu dan malim, yang pada akhirnya, para misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen di kalangan mereka.


1.    Kecamatan Batahan ibu kota Pasar Batahan

2.    Kecamatan Batang Natal ibu kota Muara Soma
3.    Kecamatan Bukit Malintang Bukit ibu kota Malintang
4.    Kecamatan Kotanopan ibu kota Kota Nopan
5.    Kecamatan Lembah Sorik Marapi ibu kota Pasar Maga
6.    Kecamatan Lingga Bayu ibu kota Simpang Gambir
7.    Kecamatan Muara Batang Gadis ibu kota Singkuang
8.    Kecamatan Muarasipongi Muara Sipongi
9.    Kecamatan Naga Juang ibu kota Tambiski
10. Kecamatan Natal ibu kota Natal
11. Kecamatan Panyabungan Kota ibu kota Panyabungan
12. Kecamatan Panyabungan Barat ibu kota Longat
13. Kecamatan Panyabungan Selatan ibu kota Tano Bato
14. Kecamatan Panyabungan Timur ibu kota Gunung Baringin
15. Kecamatan Panyabungan Utara ibu kota Mompang
16. Kecamatan Siabu ibu kota Siabu
17. Kecamatan Ulu Pungkut ibu kota Hutanagodang
18. Kecamatan Pakantan ibu kota Pakantan
19. Kecamatan Puncak Sorik Marapi ibu kota Sibanggor
20. Kecamatan Ranto Baek ibu kota Manisak
21. Kecamatan Sinunukan ibu kota Sinunukan
22. Kecamatan Tambangan ibu kota Laru
23. Kecamatan Huta Bargot ibu kota Huta Bargot 

Dalam sistem kekerabatan suku Mandailing, menganut paham partrilineal, yaitu anak mewarisi marga sang ayah, tetapi belakangan ini beberapa mulai ada yang menjalankan pahan matrilineal, yaitu sang anak mewarisi marga sang ibu. Apa yang terjadi pada suku Mandailing ini sungguh unik, karena dalam kehidupan keseharian mereka, sang anak diberi kebebasan ingin memilih marga sang ayah atau sang ibu. Tetapi suatu adat lama yang masih dipegang teguh oleh mereka adalah adat Dalihan Na Tolu yang mengatur berbagai tata cara adat istiadat suku Mandailing. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing, hidup sebagai petani di ladang, dan bercocok tanam berbagai tanaman seperti sayuran, serta tanaman keras, seperti kopi arabica, karet dan lain-lain.


Batak Mandailing Song - Sitogol

 Batak Mandailing Dance - Tortor Sambilan