Pemekaran Kabupaten Tapanuli TengahFeatured Post

Showing posts with label Batak Karo. Show all posts
Showing posts with label Batak Karo. Show all posts

Thursday, 27 December 2012

Karo Gunung


Suku Karo Gugung


Suku Karo Gugung, atau Karo Gunung, adalah bagian dari sub-suku Batak Karo di provinsi Sumatra Utara. Istilah Karo Gugung ini sebenarnya bukanlah menunjukkan suatu etnis tersendiri, melainkan sekedar menunjukkan suatu kelompok masyarakat suku Batak Karo yang mendiami dataran tinggi Bukit Barisan, atau masyarakat suku Karo yang hidup di daerah pegunungan. Secara adat-istiadat dan budaya, memang tidak ada perbedaan dengan suku Karo yang hidup di dataran rendah (Karo Jahe). Hanya karena perbedaan geograsif antara dua kelompok masyarakat suku Karo ini, terjadi perbedaan dialek antara masyarakat Karo Gugung dengan masyarakat Karo Jahe. Tetapi walaupun terjadi perbedaan dialek, komunikasi di antara kedua kelompok masyarakat ini, bisa saling memahami dengan baik.

Suku Karo Gugung, selain menjadi sub-suku dari suku Karo, ternyata masih terbagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil, yaitu : Karo Julu, Karo Berneh, Karo Gunung-gunung, Karo Singalorlau dan Karo Baluren. Pembagian ini sebenarnya, hanya berdasarkan wilayah pemukiman saja. Masyarakat Karo Gugung, bisa dikatakan hidup dan berada di pusat wilayah pemukiman masyarakat suku Batak Karo, yaitu di Taneh Karo, hingga di daerah sekitarnya seperti sebagian berada di kabupaten Dairi dan kabupaten Pakpak Bharat.

Pada awalnya masyarakat suku Karo Gugung ini adalah menganut agama sipelebegu, yaitu suatu agama tradisional yang berunsurkan kepercayaan animisme dan dinamisme, yang percaya kepada dunia roh dan kekuatan alam, yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka. Tetapi sejak masuknya misionaris Belanda dan Kanada, yang memperkenalkan agama Kristen di kalangan mereka, maka masyarakat Karo Gugung ini pun menerima agama Kristen sebagai keyakinan mereka. Hingga saat ini masyarakat suku Karo Gugung, mayoritas adalah pemeluk agama Kristen, yang sebagian besar berada di bawah naungan gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Selain agama Kristen, sebagian kecil dari masyarakat suku Karo Gugung ini ada juga yang memeluk agama Islam, karena terjadi perkawinan dengan masyarakat melayu, maupun dengan masyarakat suku Karo Jahe yang sebagian pemeluk agama Islam.

Masyarakat suku Karo Gugung ini adalah masyarakat yang ramah, menerima kehadiran para pendatang dengan tangan terbuka. Bahasa dan dialek yang mereka miliki lebih lembut intonasinya dibandingkan dengan bahasa dan dialek dari etnis-etnis batak lainnya.

Mereka memiliki sejarah masa lalu yang keras, dan pernah memiliki sejarah kerajaan yang besar pada masa lalu, terlibat pertempuran dengan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada yang berniat menginvasi wilayah Sumatra Timur hingga ke daerah pegunungan Sumatra Utara. Tetapi berkat kegigihan masyarakat suku Karo Gugung ini dengan kerajaan mereka yang terkenal dengan nama Kerajaan Haru, berhasil menaklukkan dan mengusir pasukan Majapahit meninggalkan wilayah Sumatra Timur melalui pesisir timur pulau Sumatra. (lihat: 
Gajah Mada Takluk dari Pasukan Batak Karo)

Masyarakat suku Karo Gugung, sebagian besar hidup sebagai petani, terutama pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Saat ini mereka telah membuka bebeberapa perkebunan kopi, khususnya kopi arabica yang telah menghasilkan panen beberapa kali.

Karo Jahe


Suku Karo Jahe


Suku Karo Jahe, atau Karo Bawah, adalah bagian dari sub-suku Batak Karo di Sumatra Utara. Istilah Karo Jahe, sebenarnya bukanlah mengarah kepada suatu etnis tersendiri, melainkan ditujukan kepada masyarakat suku Batak Karo yang menetap di dataran rendah. Masyarakat suku Karo Jahe ini kebanyakan menetap di kabupaten Deli Serdang, kabupaten Langkat dan kotamadya Binjai dan sekitarnya.

Suku Karo Jahe ini selain menjadi bagian dari sub-suku Karo, masih terbagi lagi menjadi 2 kelompok kecil, yaitu Karo Sinuan Bunga dan Karo Sinuan Gamber. Pemukiman masyarakat yang disebut sebagai Karo Jahe, tidak seperti masyarakat Karo Gugung yang lebih memilih di daerah pegunungan di sekitar gunung Sibayak dan gunung Sinabung, sedangkan masyarakat Karo Jahe ini menurut orang Karo Gugung, pada awalnya mereka juga berasal dari Karo Gugung, tetapi karena telah terjadi gelombang migrasi ke dataran rendah, dan juga terjadi beberapa konflik di antara mereka, akhirnya sekelompok orang memilih bermigrasi ke dataran rendah, dan tersebar ke beberapa wilayah di Deli Serdang, Langkat hingga ke kota Binjai.

Beberapa peneliti sejarah, berpendapat bahwa masyarakat Karo Jahe ini adalah keturunan dari Kerajaan Haru yang melarikan diri dan membentuk komunitas suku Karo Jahe yang bermukim di wilayah mereka sekarang ini. Di daerah baru ini mereka hidup di antara budaya Melayu, sehingga beberapa tradisi mereka agak terpengaruh dengan budaya Melayu. Walaupun begitu mereka tetap mempertahankan tradisi dan identitas mereka sebagai suku Karo. Bahasa dan dialek yang mereka pakai juga sedikit tidaknya agak terpengaruh bahasa dan dialek Melayu, sehingga mereka memiliki dialek yang berbeda dengan dialek Karo Gugung.

Sebagian besar masyarakat suku Karo Jahe telah memeluk agama Islam, karena pengaruh dominasi agama masyarakat Melayu yang juga telah lama bermukim di wilayah mereka sekarang. Sedangkan sebagian kecil masyarakat suku Karo Jahe memilih untuk beragama Kristen, sedangkan sisanya masih ada yang mempertahankan agama sipelbegu, yaitu agama tradisional lama, yang dibawa mereka dari wilayah pegunungan dahulu.

Kehidupan sehari -hari masyarakat Karo Jahe ini adalah sebagai petani, terutama pada tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu mereka juga menanam tanaman keras seperti kakao dan beberapa jenis tanaman keras lain.